Andrew Mattews Says

Hidup Anda Adalah Refleksi Sempurna dari Keyakinan Anda

Kamis, 14 Mei 2009

AWAS RUMAH ADAT KITA ILANG LAGI!!!!



Membaca salah satu berita tentang rumah adat Kudus yang kian lama banyak dijual ke luar negeri membuat hati semakin miris. Apalagi menurut harian Kedaulatan Rakyat (14/5/2009) disebutkan bahwa rumah-rumah adat itu banyak diminati oleh orang-orang dari Brunei Darussalam dan Malaysia. Eit... Malingsia.... wah kalau sudah berbau dengan si malingsia ini, jadi rada-rada sensi. Otak kecil yang ada di kepala langsung memberikan warning, Ati-Ati..... nanti rumah adat Kudus kita juga ikutan dimaling lagi....!!!

Bukannya berburuk sangka, masalahnya memang kita sudah beberapa kali kekayaan khasanah budaya Indonesia diaku sebagai hak milik si jiran. Nah rasanya tidak rela jika suatu saat tiba-tiba rumah adat kudus diaku sebagai rumah adat malaysia (btw kan dia tidak punya rumah adat sebagai identitas etnisitas dan kebagsaanya jadi wajar dong kalau kita khawatir).


Sangat sayang jika ukiran tiga dimensi sebagai ciri khas corak ukiran rumah adat kudus harus berpindah tangan ke orang lain. Memang sebagai antisipasi dari kaburnya rumah-rumah adat kudus ke luar negeri sekarang Pemerintahan Kabupaten Kudus sudah mendata dan mengawasi secara ketat jumlah dan keaslian bangunannya. Dari hasil inventarisasi Pemkab Kudus rumah adat Kudus yang asli tinggal 63 biji. Tetapi sebenarnya langkah tersebut juga masih kurang, hendaknya Pemkab Kudus segera berpikir untuk bisa mematenkan rumah adat Kudus sebagai sebuah hasil karya leluhur agar tidak diaku oleh negara lain (khususnya si malingsia !!).

Gambar dipinjam dari:

www.lawasan.com

www.bimacitraantiq.com

www.solusicerdas.com




Minggu, 22 Februari 2009

Jualan Suara Siapa Mau Beli

Semakin dekat dengan pemilu ternyata banyak sekali yang semakin menggelikan. Mulai saling klaim sampai perilaku yang elit partai yang seperti anak kecil. Hus, Mas-e jangan asal ngomong lho! Tapi memang kalau mau memperhatikan iklan di televisi maka kita tidak akan heran. Partai-partai mulai cuap-cuap jualan dagangan demi meraup suara maksimal dalam pemilu.


Partai mercedez mengklaim bahwa dibawah Sang Pembina, Indonesia berhasil menurunkan harga BBM sebanyak tiga kali dalam kurun waktu 2 bulan. Tapi jika mau jujur penurunan harga BBM itu bukannya memang karena harga minyak di pasaran dunia yang sedang anjlok , bukan karena anggaran negara yang surplus sehingga mempunyai kemampuan mensubsidi rakyatnya. Wah kejujuran memang masih mahal ternyata di negeri ini. Berani mengatakan yang benar dan mana yang tidak benar memang masih sulit (padahal dulu waktu pramuka aku selalu dapat ajaran itu lho).


Program BLT dianggap sebagai obat mujarab sehingga uang yang dihemat dari BBM bisa di terima oleh warga miskin. Tapi aku mempunyai pemikiran yang lain mengenai ini BLT tidak mengajari baik! Kenapa? karena saudara-saudara kita yang kebetulan sekarang berada dalam kondisi kesusahan itu diajari untuk tangan dibawah, bahasa lainnya adalah NGEMIS, meskipun itu kepada negara. Bukankah agama malah mengajarkan tangan diatas lebih baik dari tangan di bawah, nah seharusnya negara memacu pemberdayaan masyarakat bukan dengan cara instan memberikan uang secara cuma-cuma. Dalam jangka panjang, pengalaman ini akan menyusahkan kita sendiri. Karena mendidik anak bangsa ini untuk mengandalkan subsidi dan akhirnya akan malas untuk bekerja. Toh kan dapat jatah dari negara.


Tetapi memang dibawah Sang Pembina partai Mercedez konflik Aceh menemui titik terang dan itu memang harus kita akui. Kerja keras mereka memang patut kita hargai, paling tidak saudara-saudara kita di Aceh sekarang sudah lebih tenang dalam mengatur kehidupannya, tidak lagi dihantui oleh ketakutan akan perang dan aksi teror. Ini merupakan kredit point bagi Sang Pembina dan jajarannya.

Partai Pohon Rindang mengklaim bahwa penanganan bencana dan tanggap darurat dapat cepat dan berhasil di bawah Sang Ketua Umum. Beliau memang kebetulan ditunjuk oleh presiden untuk menjadi Koordinator Penanganan Bencana dan Tanggap Darurat Nasional. Tapi mbok ya o dilihat itu warga Porong masih kleleran karena kompensasinya pada belum cair sepenuhnya dan kepotong sana sini.