Andrew Mattews Says

Hidup Anda Adalah Refleksi Sempurna dari Keyakinan Anda

Selasa, 15 Januari 2008

Novel Laskar Pelangi dibajak!

Masih hal bajak-membajak. Teman-teman yang menyukai novel Laskar Pelangi hendaknya berhati-hati dalam membeli. Sebab sudah muncul buku bajakan dari novel serial tetralogi Laskar Pelangi yang sudah terbit ( Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor).

Pengamatan yang telah aku lakukan , ternyata dari segi kualitas buku bajakan Laskar Pelangi cukup bagus. Tinta dan kertas yang digunakan sangat mirip dengan yang asli. Perbedaan yang sangat mencolok adalah pada cover dari buku tersebut. Cetakan terbaru novel ini terdapat tulisan “Indonesia Most Powerful Book” pada bagian atas cover buku, sedangkan pada buku bajakan tulisan itu tidak ada. Selain itu, warna cover depan buku bajakan lebih pucat dari yang asli.

Ciri buku bajakan dua buku lain (Sang Pemimpi dan Edensor) bisa ditandai dari cover depan yang lebih pucat dari buku yang asli. Khusus kedua buku ini kertasnya agak berbeda. Oleh karena itu jika dibandingkan tebalnya, kedua buku tersebut lebih tipis dari buku aslinya. Jadi kalau ingin membeli buku tersebut, teliti benar-benar ciri-cirinya.

Ada beberapa kerugian yang bisa diterima oleh konsumen buku bajakan ini. Pada produk bajakan yang beredar tersebut, ternyata banyak ditemui halaman bukunya kosong atau loncat. Kualitas jilid yang digunakan juga kurang bagus. Setelah digunakan beberapa waktu, sering ada halaman yang lepas (Ya jelas, mana bisa produk bajakan seperti produk aslinya, tul gak?). Rata-rata penjual buku bajakan ini tidak mau menukar buku yang sudah dibeli, padahal konsumen membeli buku dalam keadaan tersegel plastik. Nah lho rugi kan?!

Harga buku bajakan itu memang lebih murah dari buku yang asli. Gambarannya begini, di tokoku seri Laskar Pelangi dijual dengan diskon 25% (Laskar Pelangi Rp. 60.000 jadi Rp. 45.000; Sang Pemimpi Rp. 40.000 jadi Rp. 30.000; Edensor Rp. 39.000 jadi Rp. 29.000). Nah kalau buku bajakan bisa setengahnya (Laskar Pelangi Rp. 30.000; Sang Pemimpi Rp. 20.000; Edensor Rp. 20.000).Tetapi itu dengan resiko seperti yang aku sebutkan diatas tadi lho! Dengan kenyataan seperti ini masih mau beli buku yang bajakan?

Munculnya versi bajakan dari tetralogi Laskar Pelangi ini menguntungkan atau merugikan bagi Anda tergantung dari Anda menilainya. Tetapi coba kita berfikir jika kita memposisikan diri sebagai Mas Andrea Hirata (penulis novel ini) bagaimana perasaan kita mengetahui kenyataan tersebut. Menurut pendapatku, apapun bentuknya, sebuah pembajakan jelas-jelas tidak menghargai jerih payah pengarang yang melahirkan karya tersebut.

RW

Senin, 14 Januari 2008

Bikin Senewen

Bulan lalu aku beli produk paket esia yang sudah sepaket dengan HP LG3000. Tertarik aja dengan tawarannya yang super murah buat kantong (waktu itu otak dagang sudah otomatis ngitung berapa penghematan yang dilakukan, hehhehehehe....). Maklumlah bagi aku yang lagi merencanakan dan merenda masa depan ini, jumlah berapapun akan bermanfaat (bukannya pelit lho, tapi emang lagi butuh banyak berhemat nih).

Bukannya iklan nih, tapi emang dari segi tarif pemakaian memang paling hemat diantara penyedia jasa yang lain. Bahkan aku dapat paket gratis nelpon sama sms ke sesama esia selama 6 bulan, dueng ...! Syaratnya cuma kartu dalam keadaan aktif. Bagiku itu sangat membantu banget buat menghemat pemakaian telf aku dan dia. Eh udah ah, entar dikira dibayar esia buat promosi. Tapi ada senewennya juga nih.

Yang bikin aku senewen bukan esianya, tapi produk LG yang sepaket dengan esia itu. Di HP LG 3000 itu kan ada fasilitas yang bisa digunakan untuk dipasangi hand free. Nah dalam paket itu memang tidak ada hand free jadi otomatis harus beli sendiri dunk. Karena pekerjaanku menuntut untuk bisa bertelefon sambil terus bekerja juga maka aku beli hand free. And know what? aku dah muter-muter counter acc HP di jogja dan ga ada yang punya!! Sebel ga sih?!!

Semua counter yang kudatangi menyarankan untuk mendatangi graha LG di ambarukmo plaza. Jadilah aku datang kesana, padahal jarak rumahku sama AMPLAS lumayan jauh, gapapa lah demi kenyamanan dijabanin juga akhirnya. Sampe disana tanya ke Mbak penjaga counternya, eh lha kok dijawab, " Untuk produk itu emang ga ada hand freenya Mas" sambil memberikan senyum khas costumer service.

Lho aku jadi bertanya-tanya, kalau tidak disediakan perlengkapannya kenapa disediakan fasilitasnya? Dan jawaban yang kudapatkan juga cuma, "Wah kami kurang tahu ya Mas sepertinya itu kebijakan dari perusahaan." Lho, memang ada ya kebijakan perusahaan yang seperti itu. Menyediakan fasilitas tapi tidak ada perangkatnya. Wah Paraah nih klo begini. Tapi daripada aku tambah pusing-pusing dengan penjelasan dari Mbaknya penjaga counter, segera aja aku say TQ n ngeloyor pergi.

Akhirnya aku hunting HF di kawasan pasar Kranggan, tempat pada jualan acc HP produk lokal, ketika tiba di salah satu counter, dapat HF yang match dengan HPku, akhirnya belilah aku produk itu. Tapi sialnya baru kepake sehari HFnya ternyata dah bunyi..... kresek-kresek....Yah maklum, namanya juga bajakan, bukan produk aslinya. Tobat deh pake produk bajakan. Yang ada sekarang lagi senewen bin capek, karena setiap menerima dan menelepon harus meganin pesawatnya. Heran aja ama LG kok malah lebih rela produknya dibajak daripada nyediain toolnya sendiri.