Andrew Mattews Says

Hidup Anda Adalah Refleksi Sempurna dari Keyakinan Anda

Senin, 15 Desember 2008

GOLPUT HARAM?

Baru-baru ini Ketua MPR, Bapak Hidayat Nur Wahid berbicara di media massa (KR, 13/12/2008), meminta kepada MUI untuk mengeluarkan fatwa haram untuk golput dan mewajibkan semua umat Islam untuk memilih dalam pemilu. Alasannya bahwa apapun partai yang dipilih maka demi kemaslahatan umat membangun bangsa ke depan. Wacana tentang mengharamkan golput yang didengungkan Pak Hidayat ini sebenarnya bukan yang pertama, bahkan beberapa waktu sebelumnya partai PKNU juga sudah mengharamkan pilihan untuk tidak memilih (golput) ini. Pendapat seorang tokoh sekaliber Pak Hidayat pasti tidak sembarangan. Ketika beliau mengeluarkan statemen tersebut pasti telah melalui pemikiran yang dalam. Tapi aku tetap bingung dengan pendapat jika golput itu haram. Habis gak bisa masuk dalam rasio otakku yang hanya kecil ini.

Lha wong namanya kan pemilihan, pemilihan itu kan bebas memilih to, nah masalahnya kalau nggak ada yang cocok apa tetap harus memilih? Lha katanya memilih itu adalah hak setiap warga Negara, nah kalau hak boleh digunakan boleh tidak digunakan, bener gak sih? Apa aku salah ya? Kan beda dengan kewajiban, kalau kewajiban memang harus ditunaikan. Lha kalau diharamkan, setahu aku kalau MUI yang notabene keputusannya berlandaskan Islam mengharamkan, berarti kalau tindakan itu dilakukan berarti dosa. Lha mosok tidak menggunakan hak kita kok berdosa, soalnya sepemahamanku yang haram itu kalau dilakukan mendapat dosa kalau ditinggalkan mendapat pahala (maaf kalau pemahamanku yang cetek ini salah).

Ketika aku membaca berita permintaan Pak Hidayat tadi sambil senyum-senyum, otak nakalku tiba-tiba menggelitik. Timbul pikiran bahwa mungkin beberapa tokoh mulai resah jika pemilu 2009 tingkat partisipasi masyarakat akan jauh merosot. Otak nakalku malah mengatakan kalau sebagian tokoh mulai panik jika pemilu sepi peminat maka dianggap tidak legitimate. Tapi otak nakalku juga mengira-ira kalau terjadi fenomena golput maka memang tingkat kepercayaan orang terhadap partai dan orang-orang yang berada didalammya sangat rendah.

Jika kita mau menengok ke belahan bumi seberang kita. Nun jauh di Amerika sana. Ketika proses pemilu yang dijalankan baru saja berakhir dengan kemenangan Barrack Hussein Obama. Seharusnya kita tidak perlu khawatir dengan golput. Golput akan selalu ada selama warga negara merasa apa yang dia inginkan tidak ada dalam sistim yang sedang berlangsung. Tawaran dari partai, caleg maupun capres tidak menarik dan mewakili apa yang diinginkan oleh masyarakat. Masyarakat akan malas untuk memilih jika orang-orang yang maju juga cuma itu-itu saja.

Yang terpenting adalah bukti yang diberikan dan harapan yang diberikan dengan menanamkan kepercayaan tanpa harus ada paksaan. Kita bisa meneladani apa yang telah dilakukan Obama, dia mampu memberikan bukti dan menanamkan kepercayaan kepada masyarakat. Jika kita bisa memberi kepercayaan kepada masyarakat, tanpa ada fatwa harampun masyarakat akan dengan kesadaran sendiri berduyun-duyun mendatangi TPS untuk memilih.

Senin, 08 Desember 2008

Selamat Hari Ibu

*PEREMPUAN, MAKHLUK PALING HEBAT DI NEGERIKU INDONESIA

Wanita di jajah pria sejak dulu kala…,demikian sepotong lirik lagu nostalgia itu tiba-tiba terlintas di kepala saya. Melihat kenyataan banyak tetangga sekitar yang kaum wanitanya harus bekerja keras untuk menegakkan ekonomi keluarga, sedang suaminya menjadi pengangguran atas nama PHK. Keterbatasan tingkat pendidikan menyebabkan mereka hanya bisa bergerak di sektor perdagangan. Karena di sektor ini mereka tidak dituntut adanya ijazah. Dengan ijazah maksimum SMA sekarang ini sangat susah untuk mendapatkan pekerjaan di sektor formal.
Fenomena wanita bekerja di sektor informal di tetangga-tetangga saya ini mungkin hanya sebuah potret kecil dari sekian banyak warga masyarakat Indonesia. Namun jika tinjau lebih teliti lagi, fenomena ini menjadi gejala yang menjadi kekuatan nyata dalam menggerakkan roda ekonomi.

Pada kenyataannya jika kita coba untuk mengamati di pasar-pasar tradisional, maka hampir 90% pedagang adalah perempuan. Dominasi perempuan di pasar-pasar tradisional ini cukup menggambarkan bahwa perempuan di kalangan menengah ke bawah mempunyai peran sentral dalam perputaran ekonomi. Kenyataan yang terlihat di depan kita menyadarkan bahwa sebenarnya perempuan mempunyai potensi besar untuk menjadi tulang punggung pembangunan ekonomi.

Partisipasi perempuan dalam menggerakkan ekonomi mikro lewat sektor informal memang tidak terlihat besar jika dilihat dari sisi modal, karena modal yang diputar kecil. Namun kalau dilihat dari kuantitasnya bila diakumulasikan maka akan terlihat betapa besar pengaruhnya. Jalinan mata rantai perdagangan yang saling berkait dapat menciptakan peluang-peluang baru dalam berusaha. Kekuatan jalinan mata rantai ini akan terus berkembang dengan ikatan hubungan usaha dengan pendekatan yang lebih personal bahkan sering juga emosional.

Sumbangsih perempuan dalam memutar roda ekonomi di kalangan menengah ke bawah ini selama masa orde baru luput dari perhatian pemerintah. Karena perhatian yang diberikan lebih banyak ke peran perempuan sebagai pendukung karir suami. Budaya patriarki yang terbangun sejak dahulu menyebabkan peran-peran hebat wanita kurang diakui dan hanya disebut sebagai pelengkap suami.

Pemahaman seperti ini didasarkan pada ungkapan di belakang pria yang kuat terdapat perempuan hebat. Ungkapan ini sebenarnya sudah tidak relevan lagi. Seharusnya ungkapan ini sudah berbunyi: Di samping pria yang kuat terdapat perempuan yang hebat. Penghargaan terhadap perempuan bukan lagi sebagai pelengkap suami tetapi menjadi pendukung dalam kerjasama menegakkan rumah tangga dan membangun masyarakat.

Ketika banyak pertanyaan yang mempertanyakan kenapa para pekerja laki-laki bisa memenuhi kebutuhan keluarganya sedang gaji yang didapat sangat kecil, maka pertanyaan itu terjawab dengan kenyataan yang ada bahwa disampingnya berdiri wanita hebat yang mendukung menegakkan rumah tangga. Peran perempuan dalam mendorong penguatan ekonomi keluarga ini sangat berarti dalam menopang tegaknya sebuah keluarga. Keluarga sebagai lembaga sosial yang paling utama, pembentuk peranan, sikap, nilai, dan perilaku yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan pembangunan.

Wujud dari penghargaan pemerintah terhadap perempuan dapat diungkapkan melalui pengembangan usaha mikro. Perhatian terhadap usaha mikro oleh pemerintah hendaknya memberikan ruang gerak yang lebih kepada perempuan di kalangan menengah ke bawah. Usaha mikro merupakan kegiatan ekonomi yang paling banyak menjadi pilihan dalam masyarakat, terutama kelompok perempuan yang secara aktif terlibat dalam usaha pemenuhan kebutuhan ekonomi.

Peran ganda menggerakkan ekonomi dan mengurus rumah tangga memberikan beban yang lebih berat di pundak perempuan. Dalam perannya sebagai salah satu penopang ekonomi keluarga, perempuan di tuntut untuk berpikir lebih keras agar usahanya dapat maju dan berkembang. Di sisi lain dia juga harus memperhatikan pengelolaan ekonomi keluarga dan perencanaan ke depan.

erwe
*Tulisan ini dibuat untuk menyambut Hari Ibu

JADI PENULIS MISKIN ? NGGAK LAGI…!!

DATA BUKU

Judul Buku : Siapa Bilang Menjadi Penulis itu Susah dan Nggak Bisa Kaya

Penulis : Ariyanto M.B.

Editor : Esther M. Tanuadji

Penerbit : Brilliant, Surabaya

Cetakan : Pertama, Mei 2008

Tebal : XVII + 160 hal

Harga : Rp. 50.000,-


JADI PENULIS MISKIN ? NGGAK LAGI…!!


Saya sudah dua tahun menulis buku, kok nggak pernah selesai…?”

Wah menulis itu susah ya….!”

Ngapain jadi penulis? Nggak bakalan bisa kaya!!


Ungkapan seperti ini kerap kali muncul ketika kita ingin menulis. Bahkan sering menjadi momok bagi penulis-penulis muda dan orang yang ingin belajar menulis. Pada umumnya banyak orang yang berfikir bahwa menjadi penulis itu susah, perlu modal untuk membeli buku, harus punya komputer, tidak bisa jadi gantungan hidup. Pemikiran seperti itu membuat kita merasa kalah sebelum bertanding dan tidak mau menjadi penulis.

Jika dalam buku-buku yang sejenis kita hanya disodori dengan janji-janji bahwa menulis itu mudah asal rajin latihan dengan segudang teori menulis, buku ini hadir dengan pendekatan yang lain. Kita diajak untuk menemukan cara menulis yang paling kita sukai.

Mengutip dasar filosofis dari tokoh-tokoh seperti Hamka, dan Natsir untuk mendasari cara penulisan mempermudah kita dalam belajar menulis. Yang paling umum dilakukan adalah metode Hamka. Beliau mengatakan : “Saya menulis dengan ilham” Dengan cara ini kita tinggal berada di depan mesin ketik atau komputer kemudian menuliskan apapun yang ada dalam pikiran kita. Membiarkan ide dan gagasan mengalir dari awal sampai akhir (hal 18).

Mulailah dari apa yang ada, karena yang ada itu lebih dari cukup untuk memulai…” kata Muhammad Natsir, menyadarkan kita bahwa menulis tidak butuh banyak. Permasalahan yang ada di sekitar kita sampai dengan peristiwa yang baru hangat dapat menjadi bahan tulisan yang menarik, tinggal bagaimana kita mengolahnya menjadi sajian yang unik dan bernilai berita. Bahkan menulis dengan modal kertas bekas dan pulpen serta uang lima ribu rupiah saja sudah cukup. Pertanyaannya adalah “Kok bisa?” Jelas bisa, kita tinggal tuliskan ide kita di kertas bekas tadi. Berbekal uang lima ribu rupiah kita sudah dapat menyewa warnet untuk mengirimkan naskah itu ke media massa melalui media internet. Mudah cepat dan tidak repot.

Metode yang unik disajikan oleh Silaen dengan cara menulis dahulu gagasan yang muncul. Tidak perduli pada bagian mana gagasan itu akan ditempatkan. Sedangkan metode menulis yang paling mudah dipelajari adalah metode Pram (Yudi Pramuko) yang menekankan kepada kedisiplinan kita menulis. Kita diajak untuk membuat target tulisan minimal setengah halaman sehari atau sehari harus menulis selama setengah jam. Dengan cara ini mau tidak mau kita diajak terus berlatih dan terus berproduksi. Tanpa terasa ternyata kita telah menghasilkan tulisan yang cukup banyak.

Buku ini adalah buku yang revolusioner bagi calon penulis maupun penulis-penulis muda. Penulis buku ini memberi jalan untuk kaya dengan cara menulis. Caranya adalah dengan menjadi enterpreneurwriter. Menurut dia menulis tidak hanya mengandalkan kerja pribadi, tetapi mulai berkembang dengan membangun sebuah tim. Merekrut asisten, menyewa surveyor dan interviewer sampai menggunakan jasa kurir akan mempermudah langkah kita. Penghasilan kita tidak akan berkurang karena menggunakan jasa mereka. Produktivitas yang tinggi akan menutup biaya yang kita keluarkan untuk membayar jasa mereka. Menurut penulis, hal itu bisa memberikan kita ruang untuk menangkap dan menciptakan peluang baru dalam jasa penulisan, seperti menulis biografi tokoh, profil perusahaan, atau jasa menuliskan buku bagi pengusaha dan pejabat.

Menjadi penulis sekaligus enterperneur adalah poin penting dalam buku ini. Mengandalkan hasil dari royalti menulis saja tidak akan menjadikan kita kaya. Mulai mengembangkan sayap dengan membuat usaha-usaha yang masih berkaitan dengan dunia menulis. Melipatgandakan penghasilan kita dengan memperbanyak produksi, juga dengan mencoba menjalankan usaha distribusi buku, media cetak, membuat sekolah menulis, event organizer, sampai menerbitkan buku hasil karya sendiri.

Yang mengesankan dari buku setebal 160 halaman ini adalah informasi dan gambaran-gambaran detail yang diberikan oleh penulis mengenai media massa dan penerbit, bagaimana menembus media cetak, rahasia melakukan penawaran naskah ke penerbit, sampai dengan membuat perhitungan honor dan royalti yang didapatkan. Kemudian bagaimana melipatgandakan pendapatan itu. Keterangan-keterangan dalam buku ini akan sangat membantu Anda yang baru memulai menulis dan belum tahu cara berhubungan dengan media massa dan dunia penerbitan.

erwe

Rabu, 22 Oktober 2008

Pohon Korma berbuah di desaku




Allah sedang menunjukkan kuasa-Nya, itu kata pertama ketika aku menyaksikan dengan mata dan kepalaku sendiri. Ya, ini adalah hal yang diluar kebiasaan, dalam hidup aku baru sekali ini melihat pohon korma dapat berbuah di Indonesia, dan itu terjadi di depan halaman masjid di desaku, Dusun Jatisari Desa Jatirenggo Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Kondisi iklim, curah hujan dan data-data geografis yang biasa digunakan untuk menentukan baik tidak tanaman ditanam di suatu daerah seperti yang pernah aku pelajari di bangku kuliah seakan jungkir balik.

Awalnya aku tidak percaya ketika Pak Dhe menceritakan bahwa pohon korma yang beliau tanam di halaman masjid 13 tahun yang lalu telah berbuah. Karena secara keilmuan akan sangat sukar tanaman ini berbuah, sebab untuk berbuah tanaman membutuhkan kondisi tertentu agar dapat terjadi pembuahan dari bunga yang muncul. Tetapi ketika sudah menyaksikan sendiri aku baru percaya. Ternyata kabar tentang berbuahnya pohon korma didepan masjid itu juga sudah banyak menyebar. Bahkan banyak yang kemudian berlebihan dengan mengait-ngaitkan hal ini dengan tahayul. Sampai-sampai pengurus masjid harus membuat pagar di sekeliling tanaman korma yang berbuah tadi agar tanaman itu tidak rusak oleh pengunjung yang berlebihan dalam mensikapi keajaiban yang terjadi ini.

Menurut Pak Dhe, beliau juga tidak menyangka jika korma yang ia tanam ini akan berbuah. Pengalamannya bertani selama berpuluh tahun juga tidak bisa menjelaskan fenomena yang terjadi itu. Beliau selalu mengatakan kepada setiap pengunjung bahwa "Iku kuasane Gusti, manungso mung iso narimo lan sujud marang Gusti "(Itu kekuasaan Allah, manusia hanya bisa menerima dan mensyukuri apa yang diberikan oleh Allah), dari paparan Pak Dhe tadi aku jadi merasa malu kepada Pak Dhe, begitu tawadhu'nya beliau kepada Allah, sedangkan aku yang selalu dianggap Pak Dhe sebagai orang kota, yang pernah belajar tentang ilmu pertanian dan tempat beliau bertanya, tak mampu untuk memaknai kekuasaan Allah tadi.

Fenomena berbuahnya pohon korma ini menyadarkan kepadaku betapa kecilnya aku. Betapa luasnya kuasa dan ilmu Allah. Allahu Akbar.

RW

Senin, 30 Juni 2008

harapan membuncah
tatkala gita cinta berkumandang
cita-cita tlah lama direntas
terwujud tatkala sebuah ikatan dibuat
sungguh suatu harmoni yang merdu

Ya Illahi...
ampunkanlah hamba
kuatkanlah hamba
dalam segenap doa dan pengharapan
tanpaMu aku bagai sebatang lidi
yang mudah patah dan tak berarti

Minggu, 29 Juni 2008

akhirnya

Fiuh....
Setelah sekian bulan tidak aktif akhirnya sempat juga nulis lagi di blog. Mohon maaf buat teman-teman, Rie dan semua. Selama ini mau tidak mau harus melakoni kegiatan yang rutin kerja dan kemudian pulang ke rumah dengan tubuh yang sudah kecapekan.

Selain itu juga mondar-mandir Jogja-Jakarta untuk meraih masa depan, ciee.... , eh serius nih.. nggak kok untuk mempersiapkan pernikahan. Jadi maaf ya klo kemaren ga sempat nulis2, sebenarnya dari kemaren banyak yang udah muter di otak, tapi gak sempat-sempat.

Alhadulillah acaranya sudah terlaksana tanggal 23 Mei 2008 lalu di Jakarta, eh entar tak upload deh foto-foto pernikahannya ya. Jadi sekarang aku sering dipanggil Bapak Ashar (Grrrr... serasa tua) padahal kan belum tua-tua amat kan ya? ( ngarep mode on)

ok deh segini dulu entar tak posting deh apa-apa yang lagi muter dikepala ini, abis banyak banget jadi baru di pilah-pilah nih biar ga ruwet.

RW




Selasa, 15 Januari 2008

Novel Laskar Pelangi dibajak!

Masih hal bajak-membajak. Teman-teman yang menyukai novel Laskar Pelangi hendaknya berhati-hati dalam membeli. Sebab sudah muncul buku bajakan dari novel serial tetralogi Laskar Pelangi yang sudah terbit ( Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor).

Pengamatan yang telah aku lakukan , ternyata dari segi kualitas buku bajakan Laskar Pelangi cukup bagus. Tinta dan kertas yang digunakan sangat mirip dengan yang asli. Perbedaan yang sangat mencolok adalah pada cover dari buku tersebut. Cetakan terbaru novel ini terdapat tulisan “Indonesia Most Powerful Book” pada bagian atas cover buku, sedangkan pada buku bajakan tulisan itu tidak ada. Selain itu, warna cover depan buku bajakan lebih pucat dari yang asli.

Ciri buku bajakan dua buku lain (Sang Pemimpi dan Edensor) bisa ditandai dari cover depan yang lebih pucat dari buku yang asli. Khusus kedua buku ini kertasnya agak berbeda. Oleh karena itu jika dibandingkan tebalnya, kedua buku tersebut lebih tipis dari buku aslinya. Jadi kalau ingin membeli buku tersebut, teliti benar-benar ciri-cirinya.

Ada beberapa kerugian yang bisa diterima oleh konsumen buku bajakan ini. Pada produk bajakan yang beredar tersebut, ternyata banyak ditemui halaman bukunya kosong atau loncat. Kualitas jilid yang digunakan juga kurang bagus. Setelah digunakan beberapa waktu, sering ada halaman yang lepas (Ya jelas, mana bisa produk bajakan seperti produk aslinya, tul gak?). Rata-rata penjual buku bajakan ini tidak mau menukar buku yang sudah dibeli, padahal konsumen membeli buku dalam keadaan tersegel plastik. Nah lho rugi kan?!

Harga buku bajakan itu memang lebih murah dari buku yang asli. Gambarannya begini, di tokoku seri Laskar Pelangi dijual dengan diskon 25% (Laskar Pelangi Rp. 60.000 jadi Rp. 45.000; Sang Pemimpi Rp. 40.000 jadi Rp. 30.000; Edensor Rp. 39.000 jadi Rp. 29.000). Nah kalau buku bajakan bisa setengahnya (Laskar Pelangi Rp. 30.000; Sang Pemimpi Rp. 20.000; Edensor Rp. 20.000).Tetapi itu dengan resiko seperti yang aku sebutkan diatas tadi lho! Dengan kenyataan seperti ini masih mau beli buku yang bajakan?

Munculnya versi bajakan dari tetralogi Laskar Pelangi ini menguntungkan atau merugikan bagi Anda tergantung dari Anda menilainya. Tetapi coba kita berfikir jika kita memposisikan diri sebagai Mas Andrea Hirata (penulis novel ini) bagaimana perasaan kita mengetahui kenyataan tersebut. Menurut pendapatku, apapun bentuknya, sebuah pembajakan jelas-jelas tidak menghargai jerih payah pengarang yang melahirkan karya tersebut.

RW

Senin, 14 Januari 2008

Bikin Senewen

Bulan lalu aku beli produk paket esia yang sudah sepaket dengan HP LG3000. Tertarik aja dengan tawarannya yang super murah buat kantong (waktu itu otak dagang sudah otomatis ngitung berapa penghematan yang dilakukan, hehhehehehe....). Maklumlah bagi aku yang lagi merencanakan dan merenda masa depan ini, jumlah berapapun akan bermanfaat (bukannya pelit lho, tapi emang lagi butuh banyak berhemat nih).

Bukannya iklan nih, tapi emang dari segi tarif pemakaian memang paling hemat diantara penyedia jasa yang lain. Bahkan aku dapat paket gratis nelpon sama sms ke sesama esia selama 6 bulan, dueng ...! Syaratnya cuma kartu dalam keadaan aktif. Bagiku itu sangat membantu banget buat menghemat pemakaian telf aku dan dia. Eh udah ah, entar dikira dibayar esia buat promosi. Tapi ada senewennya juga nih.

Yang bikin aku senewen bukan esianya, tapi produk LG yang sepaket dengan esia itu. Di HP LG 3000 itu kan ada fasilitas yang bisa digunakan untuk dipasangi hand free. Nah dalam paket itu memang tidak ada hand free jadi otomatis harus beli sendiri dunk. Karena pekerjaanku menuntut untuk bisa bertelefon sambil terus bekerja juga maka aku beli hand free. And know what? aku dah muter-muter counter acc HP di jogja dan ga ada yang punya!! Sebel ga sih?!!

Semua counter yang kudatangi menyarankan untuk mendatangi graha LG di ambarukmo plaza. Jadilah aku datang kesana, padahal jarak rumahku sama AMPLAS lumayan jauh, gapapa lah demi kenyamanan dijabanin juga akhirnya. Sampe disana tanya ke Mbak penjaga counternya, eh lha kok dijawab, " Untuk produk itu emang ga ada hand freenya Mas" sambil memberikan senyum khas costumer service.

Lho aku jadi bertanya-tanya, kalau tidak disediakan perlengkapannya kenapa disediakan fasilitasnya? Dan jawaban yang kudapatkan juga cuma, "Wah kami kurang tahu ya Mas sepertinya itu kebijakan dari perusahaan." Lho, memang ada ya kebijakan perusahaan yang seperti itu. Menyediakan fasilitas tapi tidak ada perangkatnya. Wah Paraah nih klo begini. Tapi daripada aku tambah pusing-pusing dengan penjelasan dari Mbaknya penjaga counter, segera aja aku say TQ n ngeloyor pergi.

Akhirnya aku hunting HF di kawasan pasar Kranggan, tempat pada jualan acc HP produk lokal, ketika tiba di salah satu counter, dapat HF yang match dengan HPku, akhirnya belilah aku produk itu. Tapi sialnya baru kepake sehari HFnya ternyata dah bunyi..... kresek-kresek....Yah maklum, namanya juga bajakan, bukan produk aslinya. Tobat deh pake produk bajakan. Yang ada sekarang lagi senewen bin capek, karena setiap menerima dan menelepon harus meganin pesawatnya. Heran aja ama LG kok malah lebih rela produknya dibajak daripada nyediain toolnya sendiri.