Andrew Mattews Says

Hidup Anda Adalah Refleksi Sempurna dari Keyakinan Anda

Rabu, 14 November 2007

Beli-Beli

Beli... beli... beli... tiba-tiba ponakanku berguling-guling sambil menangis. Aku yang baru pertama kali liat ulah yang seperti itu terbengong-bengong. Usut punya usut, beli-beli yang dimaksud itu itu ternyata dia minta dibelikan sesuatu di toko karena merasa dinakali oleh kakaknya. Waktu diajak ke toko untuk membeli barang yang dimaksudkan dia malah kebingungan untuk milih barang yang mau dibeli. Nah lho apa hubungannya antara dinakali dengan beli barang? Aku juga nggak mudeng hubungannya. Tapi ada yang menarik dari kejadian itu. Bahwa budaya konsumerisme ternyata secara pelan-pelan telah menyusup sampai ke anak kecil. Budaya suka belanja bahkan untuk hal-hal yang kita belum tau apa kegunaannya.

Mungkin dalam kasus ini kita bisa berasumsi bahwa, gak semua kok kayak gitu, tergantung ortunya juga. Kalau bisa mendidik anaknya gak begitu-begitu amat. Pendapat itu juga ada benarnya. Tapi yang perlu kita perhatikan adalah sedikit demi sedikit tanpa terasa kita terjatuh dalam jebakan konsumerisme. Pelan tapi pasti dia memcengkeram kita melalui kampanye tentang kemudahan yang akan dinikmati, bungkus yang menarik sampai angan-angan hadiah bermilyar-milyar.

Alih-alih alasan yang digunakan adalah, "Terserah gue dong, gue mampu kok!", atau "Kalau tetangga sebelah bisa kenapa kita tidak?" Eh tapi jangan-jangan kita tidak merasa ya kalau sudah jadi anggota dari bangsa konsumen?


Kamis, 01 November 2007

Married is Menikah....


Menikah,

sebuah kata yang bagi seseorang bisa menggembirakan, tetapi juga bisa berarti musibah bagi yang lain. Ketika aku menengok sejenak ke dalam benak seorang gadis, bahkan dia berpikir bahwa menikah adalah keputusan yang mengerikan, penuh ketakutan dan ketidakpastian. Dia terombang-ambing antara siap dan tidak siap. Pertanyaan-pertanyaan yang terus memburu untuk segera menikah karena usia yang terus merambat seakan menjadi santapan sehari-hari bagi dirinya.

Ingin rasanya segera melaksanakan apa yang diminta, tetapi rasa takut akan bayangan-bayangan yang berputar di benaknya terus menghantui. Menikah seakan berada di hutan belantara yang membingungkan, asing, dan penuh hantu yang setiap saat siap menerkam dan melumatnya. Membayangkan akan berada dalam satu ruangan, berbagi tempat tidur dengan seorang laki-laki, merasakan bau tubuhnya, wow, itu teramat susah dia terima.

Belum lagi cara berpikirnya, dia tidak suka dengan hal-hal yang tidak pasti, everything must be under control, katanya. Menikah, itu membuat sebuah jejaring ketidakpastian dalam hidupnya. Dan dia membenci ketidakpastian! Tapi dia tetap ingin menikah, menghilangkan kalimat-kalimat yang semakin sering mengganggunya. "Kapan kamu mau nikah?" kalimat tanya ini sudah didengarnya lebih dari lima ratus kali kalau tidak salah ingat. Dan kalimat "Gimana, sudah ada calonnya belum?" bertengger di urutan kedua dengan jumlah tiga ratus tujuh puluhan kali.

Ah.. itukah alasannya untuk menikah? Pikirannya memberontak, tidak, dia tidak berpikir menikah untuk membungkam mulut-mulut yang selalu usil bertanya itu. Setidaknya itu bukan alasan utamanya. Terus apa alasan dia untuk menikah? Dia mencintai pria diseberang lautan itu, dia ingin selalu berdekatan dengan pria itu. Itukah alasannya untuk menikah? Aku sudah berusaha mengaduk-aduk isi benaknya, tapi dengan sangat pandai dia menyimpan alasan itu entah di bagian mana dari benaknya.

Sepertinya dia hanya menyimpan alasan itu untuk dirinya sendiri. Well, aku tidak bisa menyalahkannya, tapi coba aku bisa mengintip sedikit saja, maka kita dapat berbagi barang sedikit informasi itu. Tapi sudahlah, aku sudah tidak bernafsu lagi untuk menjelajahi benaknya. Rohku terlalu lelah untuk membuka lembar demi lembar jutaan megabite memori yang dipunyainya.




NB: Gambar dipinjam dari blognya Mas Rony di rony.dgworks.net Makasih Mas Rony