Andrew Mattews Says

Hidup Anda Adalah Refleksi Sempurna dari Keyakinan Anda

Minggu, 21 Oktober 2007

Kecewa, Sebal, tapi juga Bangga

Kecewa itu yang aku rasakan saat menyaksikan pertandingan sepakbola antara kesebelasan kebanggaanku PSS Sleman melawan Persib Bandung. Hasil seri 1-1 sebenarnya dari segi permainan saling berimbang jadi tidak terlalu mengecewakan. Yang bikin kesel bukan itu, tetapi ulah sebagian kecil dari viking (pendukung persib). Sebagai salah satu slemania (wadah suporter PSS Sleman) sejati kami selalu setia menjaga komitmen untuk menyebarkan virus perdamain ke seluruh suporter sepakbola di tanah air, bahkan internasional jika nanti PSS Sleman go internasional. Oleh karena itu ketika viking datang ke Jogja, kami sambut dengan gembira dan sambutan yang baik.

Rasa kecewa itu bermula ketika menjelang pertandingan aku masuk stadion dan melihat banyak coretan-coretan yang dilakukan oleh sebagian anggota viking di tembok-tembok stadion, padahal stadion maguwoharjo sedang dalam tahap pernyempurnaan. Perilaku vandalisme yang selayaknya tidak dilakukan sebagai tamu yang disambut dengan baik oleh tuan rumah. Berbeda ketika kami kalah di bandung sambil dihujani batu (kalah aja dihujani batum, gimana kalo menang ya, mati mungkin )

Kekecewaan berlanjut dengan rasa sebal ketika sebelum pertandingan beberapa anggota viking berulah dengan membunyikan petasan. Padahal hal itu kan dilarang dalam stadion, tapi salah aparat keamanan juga ya, kok yg beginian masih bisa lolos juga? Memang jauh sebelum pertandingan kedua kesebelasan tersiar kabar bahwa beberapa suporter dari daerah tetangga yang pernah mengalami kejadian tidak mengenakkan di Bandung akan melakukan pembalasan di sleman. Tapi ternyata itu tidak terbukti, pertandingan sendiri sempat tertunda lima menit karena aksi saling lempar antara viking dan slemania ( truely kami gak pernah ingin ada insiden ini, apalagi ini kandang kami). Akhirnya keributan dapat diredam setelah ada lima kali tembakan ke udara oleh aparat keamanan dan bantuan bala slemania yang kemudian memisahkan warna ijo dan warna biru.

Yang sangat disayangkan adalah jatuhnya beberapa korban, seorang slemania yang tepat berada disamping saya, kepalanya bocor terkena lemparan botol kratingdaeng dari si biru (hayah dari mana juga barang ginian bisa masuk coba?). Sebenarnya hal-hal semacam ini tidak perlu terjadi jika suporter Indonesia mau lebih dewasa. Dewasa dalam melihat suatu permasalahan dan bertindak. Lebih mengedepankan akal dan kepala daripada hati yang panas.

Rasa bangga, sebagai slemania aku rasakan karena meskipun kami mengalami pengalaman buruk di Bandung, itu tidak terjadi di Sleman. Bukanya diam karena kami takut, tapi kami lebih mengedepankan rasio. Tidak mungkin menyebarkan virus persahabatan suporter jika menggunakan kekerasan.

Minggu, 14 Oktober 2007

Lebaran....Lebaran

Lebaran tiba...
Rasanya hanya menjadi ritual belaka, kenapa ya lebaran kali ini kehilangan rohnya. Untuk pertama kali lebaran berasa biasa banget, ga ada gregetnya. Entah mungkin karena ibadahku di bulan Ramadhan yang standar-standar aja (ada pengaruhnya ga sih?) tapi yang jelas itu yang kurasakan. Segalanya seperti biasa aja, atau malah hidupku yang memang stagnan ya? Hanya ritual dan ritual yang terus berulang.

Rasa bosan mulai menggelayuti diri ini. Rasanya hidup jadi monoton, tidak ada tantangan yang berarti. Satu-satunya tantangan yang berarti saat ini adalah membuktikan bahwa aku bisa mengembangkan usaha yang aku rintis sekarang ini. Banyak orang yang nyinyir dengan pekerjaan yang aku jalani sekarang ini. Dari mulai pandangan sebelah mata, sampai omongan yang nggak sedap, baik di depan maupun dibelakangku. Tapi itu aku anggap sebagai cambuk untuk membuktikan, bahwa pilihan yang aku ambil ini tepat, yang aku butuhkan hanya waktu untuk berkembang. Aku bukanlah David Coperfield yang punya perjanjian dengan ifrid, sehingga bisa menyulap segala sesuatu menjadi seperti yang diinginkan. Semua ada prosesnya, dan proses itu yang sedang aku jalani.

Sepertinya hidup yang standar-standar memang cepat bikin kita bosan dan kehilangan semangat ya. Mungkin ini saatnya untuk berbuat sesuatu yang lebih, tidak hanya menjalani ritual- ritual hidup.

Sabtu, 06 Oktober 2007

Panas... Panas....

Wuahhhh... sambil nulis ini keringatku berleleran. Maklum ruangannya ga ber-AC juga sih. Sadar-ga sadar (emang ada yang pingsan kah?) Jogja ga seadem dulu lagi! Kata orang-orang pinter sih ini karena efek dari pemanasan global, rumah kaca atau rumah siput hehhehehehe... Tapi emang itu yang aku rasakan akhir-akhir ini. Ditambah lagi berjubelnya manusia-manusia dengan bermacam kendaraan ( baik mobil maupun motor) dari penjuru negeri ini untuk mudik atau malah sekedar berlibur ke Jogja bikin my lovely city ini jadi tambah hot (meski secara ekonomis ini menguntungkan diriku, jadi banyak pembeli di kios nih hehhehee...) . Yang jelas fenomena menjelang lebaran di Jogja akhir-akhir ini seperti itu. Berbeda dengan sekitar sepuluh tahun yang lampau, lebaran di Jogja malah sepi banget.

Tapi yang aku gak habis pikir itu kenapa Jogja bertambah sesak ya? Apa karena orang yang asli Jogja sudah berkembang sedemikian banyaknya di kota-kota lain, sehingga waktu mudik jadi berjubel disini. Tapi sepertinya itu bukan sebuah jawaban yang mutlak. Saat-saat seperti sekarang ini tidak bisa lagi bersepeda onthel maupun naik becak dengan nyaman. Kendaraan yang untuk ukuran jaman sekarang sudah dianggap lambat. Bahkan yang lebih sadis sering dituduh sebagai biang kemacetan. Padahal kalau dipikir-pikir yang "makan" jalan itu bukanlah becak yang lebarnya tidak seberapa dan pit onthel yang hanya "tipis". Tapi gerobak-gerobak Jepang dan Jerman ber-stang bulat itu. Semakin banyak yang punya itu, rasanya jalanan kota Jogja yang dulu terasa lebar dan lega ketika digunakan ngepit onthel dan mbecak sekarang jadi terasa sempit.

Kenyataan semakin sesaknya Jogja itu juga didukung oleh semakin berseliwerannya kuda-kuda Jepang dan China. Dengan iming-iming kredit dan uang muka yang rendah, setiap orang disini sekarang sudah bisa bergaya mondar-mandir dengan kuda-kuda jepang yang semakin digenjot produksinya untuk memuaskan hasrat nafsu atas nama trend dan mode, tanpa pernah sadar menjadi budak-budak kapitalisme. Dari dulu tidaklah berubah, mungkin hanya istilah atau nama saja yang berubah. Dulu ada budak, romusha, dan sekarang berubah jadi "kreditur", orang yang berhutang. Tapi tetap saja jadi orang yang kalah. Tidak pernah merasa bahwa hasil kerja banting tulang yang dia lakukan dihisap oleh kekuatan modal yang ada di seberang lautan. Mereka tidak pernah sadar untuk mengecap nikmat benda yang akan segera rongsok dalam hitungan lima sampai sepuluh tahun kedepan telah dimanfaatkan. Hanya satu kata yang dapat menjelaskan ini semua : IMPERIALISME.

Kapankah kita akan lepas dari jebakan-jebakan imperialisme ini? Merdeka sebagai sebuah satuan masyarakat, sebagai sebuah bangsa. Sepertinya apa yang diteriakkan oleh Sukarno, Mohammad Hatta( Mohammad Attar), Sukarni, Sayuti Melik dan beberapa pemuda di Jl Pegangsaan Timur 56 Jakarta waktu itu baru sebatas lisan dan tulisan. Belum sampai ke kalbu dan pikiran , karena kalbu dan pikiran kita masih sebagai bangsa terjajah, hamba dan pemuja imperialisme bagaimanapun itu bentuknya.

Pinggir kali Nongo 2007

Senin, 01 Oktober 2007

Sebanding Ga Si?

Selama bulan puasa ini aku lebih sering memperhatikan para pembeli di tempatku bekerja. Mulai ucapan sampai dengan tingkah lakunya ketika berbelanja maupun yang hanya sekadar lewat atau numpang duduk di depan kios. Bukan bermaksud untuk menambah dosa, karena dalam agama kita diminta untuk menundukkan pandangan agar tidak melihat yang tidak semestinya dan tidak halal bagi kita, tapi aku berfikir insya Allah ada pelajaran yang dapat diambil dari mereka.

Kita bohong itu dosa gak sih? Aku kira pertanyaan itu akan dianggap pertanyaan bodoh karena semua orang juga tahu jawabnya bahwa bohong itu dosa (anak kecil aja juga tahu mas…). Tetapi coba kita tanyakan kepada beberapa pembeli dikiosku, ternyata tidak semua menganggap bohong itu dosa! “Weleh kok berani-beraninya sih nuduh orang seperti itu? Nggak takut dosa karena berburuk sangka kepada orang lain?”, pertanyaan itu sempat mampir juga dikepalaku. Menurutku enggak kok, karena aku hanya memotret apa yang terjadi.

Contohnya gini, ada Mbak-mbak yang mo beli buku, terus aku kasih tahu harganya lima belas ribu rupiah dan dapat diskon lima ribu rupiah, jadi dia hanya membayar sepuluh ribu rupiah. Tapi si Mbak ini menawar tujuh ribu rupiah, dengan alasan temannya membeli seharga tujuh ribu rupiah. Trus aku jelaskan tidak bisa dengan harga segitu karena dari penerbitnya saja belinya sudah sembilan ribu rupiah. Eh si Mbak nawar lagi dengan harga sembilan ribu rupiah sesuai dengan harga dari penerbit. Dan akhirnya setuju dengan harga sepuluh ribu rupiah yang aku berikan. Nah lho, kok dia mau dengan harga yang lebih tinggi dari temannya?

Bagiku bukan masalah dia akan menawar berapapun, karena menawar adalah hak pembeli, tapi yang rasanya ngganjel adalah alasan yang diberikan, temannya membeli seharga tujuh ribu rupiah, itu lho. Padahal jelas-jelas dari penerbitnya seharga sembilan ribu rupiah. Kasus seperti ini sering banget aku temui. Kenapa sih harus dengan berbohong untuk mendapatkan selisih harga yang hanya beberapa ribu rupiah? Sebandingkah harga beberapa ribu rupiah itu dengan dosa kebohongan yang dibuat? Atau si Mbak tadi nggak nyadar ya kalau sedang berbohong. Atau hal itu merupakan sesuatu yang sangat biasa jadi tidak terasa bahwa kita sedang berbohong? Dari sana aku jadi belajar bahwa kita harus benar-benar menjaga lisan kita. Siapa tahu, apa yang kita anggap enteng dan sepele ternyata tanpa sadar kita telah berbuat dosa.