Aku baru selesai menata dagangan ketika Astya datang. Hari yang panas membuat titik peluh menghiasi dahinya, sebagian mengalir melalui anak rambutnya. Tiga tahun telah berlalu sejak hubungan kasih antara kami terputus. Awal percintaanku dengannya sangatlah konyol dan menggelikan. Waktu itu aku adalah kapten tim voli sekolah dan dia adalah adik kelasku. Bukannya memberi semangat kami untuk memenangkan kejuaraan tapi dia malah mengejek kami. “Sudahlah Mas, ga mungkin menang, serius amat latihannya!” Rasa jengkel memenuhi rongga dadaku, “Siapa bilang tim kita akan kalah? Lihat saja nanti, kami pasti jadi juarannya!” Tidak ada yang boleh meremehkan timku. “Ah, gak mungkin, berani bertaruh?”, lanjut Astya dan gengnya waktu itu. “Ok, siapa takut? Apa taruhannya?”, timpalku tak mau kalah. “Kalau kamu kalah, kamu harus traktir kami selama tiga bulan berturut-turut di kantin sekolah”. “Dan bagaimana kalau tim kita menang? Hm…Kalau tim kita menang kamu harus jadi pacarku. Bagaimana? Berani?” potongku langsung. Teman-teman setimku senyum-senyum mendengar syaratku, “Mampus kau Astya, main-main sama Ahmad, kena batunya kau!” Astya terlihat diam sesaat, tapi karena sudah terlanjur menantang taruhan, ia malu untuk menariknya kembali, maka disetujuinya pertaruhan itu.
Nasib baik berpihak padaku, tim kami yang belum pernah meraih gelar juara sekalipun memenangkan kejuaraan itu। Dan mulai saat itu kami jadian. Hubungan yang awalnya sebuah pertaruhan itu kemudian malah berubah benar-benar menjadi hubungan cinta. Bahkan kedua orang tua kami pun sudah sama-sama menyetujui pertalian itu. Sampai kira-kira tiga tahun yang lalu, kupergoki dia sedang jalan bergandengan dengan kakak angkatannya di sebuah mall. Keputusan yang emosional kubuat waktu itu, melihat dia jalan dengan laki-laki lain. Sang ego begitu tingginya sehingga mengalahkan rasio, dan putuslah jalinan tali kasih antara kami.
Dari tempat parkir motor sudah dilemparkannya senyum kearahku. Anggukan kepala kuberikan untuk menyambut senyum yang dilemparkannya. Masih seperti tiga tahun yang lalu, tanpa permisi langsung masuk ke dalam kiosku. Begitulah adat kelakuannya, tak pernah sungkan-sungkan terhadap siapa saja dan selalu terbuka. ”Laris Mas jualannya?”, seraya duduk di bangku panjang. “Yah lumayan, yang penting bisa buat hidup”. Aku mengambil tempat duduk di sebelah kanan Astya namun tak berani menatap wajahnya. Setelah itu, suasana dalam kios serasa beku. Kami hanya saling diam, tenggelam dalam perasaan dan pikiran masing-masing.
Gunung es yang tiba-tiba timbul dalam kiosku mulai meleleh saat dia bertanya, ”Gimana kabarnya Mas selama ini, ibu-bapak sehat semua ?” Sebuah pertanyaan yang umum sebenarnya। Tapi menjadi aneh kedengaran ditelingaku karena yang menanyakan Astya। Perempuan yang tak pernah menyukai basa-basi dan suka mengungkapkan apa yang dia pikirkan secara langsung. “Baik. Bapak ibu juga sehat semua, kamu sendiri gimana?” Sesaat pandanganku mengarah ke wajahnya. “Hmm, baik”, seraya menundukkan wajahnya. Tapi sebuah gurat kesedihan sempat tertangkap oleh pandanganku meskipun segera ditutupnya dengan senyum. Segera kualihkan pembicaraan ke topik yang lain “Ada apa ini, kok njanur gunung sempat mampir ke kios?”. Aku berfikir pasti ada sesuatu yang luar biasa yang sampai membawanya datang kepadaku. “Ah, gak ada apa-apa kok, cuman mau main sama kasih sesuatu ke Njenengan.”, sambil mengangsurkan sepucuk surat dengan kedua tangannya. Kuterima surat itu dengan perasaan heran. Aku masih terbengong-bengong atas apa yang baru saja terjadi. “Aku pulang dulu ya Mas! Ada praktikum di kampus siang ini.”, kata-kata Astya itu menyadarkanku. Hanya anggukan kepala yang sanggup kulakukan untuk menjawab pamitan Astya.
Tulisannya jelas adalah tulisan Astya। Tulisan tangan yang tak terlalu rapi. “Dasar calon dokter”, batinku dalam hati. Kubuka amplop surat itu. Berkali-kali surat itu kubaca dan kurenungkan. Dalam surat itu semua hal yang terjadi setelah berpisah denganku dibukanya. Sebuah pertentangan batin yang hebat berkecamuk dalam kalbuku. Di satu sisi masih terbersit rasa sayangku terhadapnya. Astya memang cinta pertamaku, segala daya dan pengorbanan telah banyak kulakukan untuk membimbingnya menjadi calon istri seperti yang kuinginkan. Tapi jalan kehidupan memang menentukan lain. Aku harus mengalami peristiwa yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Dia ternyata menduakanku.
Di sisi yang lain, sudah menjadi pedoman hidupku bahwa aku hanya memberi kesempatan sekali saja kepada seorang perempuan untuk menjalin cinta denganku। Jika kami tak mampu mempertahankannya, dan ditengah jalan kemudian harus putus, maka kuanggap memang kami tidak berjodoh. Bagiku, tidak berlaku peribahasa jawa, “Teklek keceblung kalen, tinimbang golek aluwung balen.” Tak ada kata mengulang percintaan dalam kamus hidupku. Sebagai konsekuensi dari pedoman hidupku, aku benar-benar memperjuangkan calon pasangan hidupku itu, dengan satu syarat, dia tidak mengkhianati kepercayaan yang telah aku berikan. Dan itu telah dilanggarnya.
***
Hari ini, aku telah menetapkan hati। Sebuah keputusan telah kuambil, kisah asmara kami tidak dapat disambung kembali. Aku akan menyayangi Astya sebagai seorang teman, seorang sahabat, yang akan selalu ada baginya dikala suka maupun duka. Segera kuhubungi nomor HP-nya dahulu ---semoga nomornya belum ganti--- nada panggil berdering. “Hallo”, terdengar suara dari seberang. “Assalamu’alaikum, Astya ya?”, agak ragu kucoba memastikan. “Wa’alaikum salam. Benar, ah Mas Ahmad! Ada apa Mas?” Suara Astya sedikit bergetar, mungkin tak menyangka aku akan menelponnya siang ini. “Aku sudah baca surat kamu, oh ya, kamu ada waktu nggak? Aku pengen ngomong sama kamu.” Kini giliran suaraku yang sedikit tercekat, ada sesuatu yang berdesir di hati ini. “Ok, habis ini aku ke kios deh. Eh, Mas udah makan belum? Aku bawakan makanan ya.” Nada suaranya sedikit berubah, ada rona harapan tersirat didalamnya. “Terserah kamu aja As, assalamu’alaikum.”
Selesai sholat Dzuhur aku bergegas kembali ke kios yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari masjid। Matahari siang ini bersinar terik. Panasnya terasa membakar kulit. Begitu aku masuk Astya telah nongkrong di bangku panjang kios. Aku menyapanya lebih dahulu agar tidak terjadi kebekuan seperti tempo hari. Kutanyakan apa dia sudah lama menunggu. Dia menjawabnya dengan gelengan kepala. “Ught॥! Kenapa anak ini jadi pendiam seperti ini sekarang”, gumanku dalam hati. Aku tak siap dengan sikap diamnya ini. Lidahku seakan jadi kelu untuk meneruskan pertanyaanku tadi dan aku hanya terdiam. “Mas, katanya mau ngomong sama aku. Kok malah diem sih?” Teguran itu menyadarkanku. “Eh ya, begini As, aku sudah baca surat kamu”, sampai disini lidahku tercekat. Kulihat Astya memandangku, matanya yang bulat berkejam-kejap, setelah itu dia menundukkan mukanya. Seperti seorang pesakitan yang menunggu vonis dari hakim. Celakanya, hakim itu adalah aku! “As, kamu kan paham betul prinsipku. Dan itu sudah kukatakan sejak awal hubungan kita dahulu”. Wajah Astya semakin menunduk. Ia mengangguk mengamini apa yang kukatakan. “ Kita tidak mungkin kembali seperti yang dulu lagi. Kamu mengerti kan? Tapi aku akan tetap menjadi sahabatmu, di kala kamu senang maupun susah.” Tetes air mata berderai dari kedua pelupuk mata Astya. “Tapi Mas! Bagaimana dengan bayi dalam kandunganku ini? Aku memang salah Mas, tapi please!. Pengecut itu berhasil memperdayaku dan pergi setelah menanamkan benihnya, aku tak punya siapa-siapa lagi. Hanya kamu satu-satunya harapanku Mas! Tolong aku! Nikahilah aku, setidaknya sampai bayi ini lahir. Aku nggak mau bayi ini lahir tanpa bapak!”
Aku duduk termangu। Berbagai pikiran campur-aduk dalam benakku. Kupandangi wajah Astya sekali lagi. Aku bisa saja menerimanya, membantunya keluar dari masalah, dan kemudian menceraikannya saat bayi itu sudah lahir, tapi itu artinya aku akan melepas prinsip yang kupegang selama ini. Belum lagi dengan Bapak dan Ibu, beliau berdua pasti akan dengan keras menolak. Beliau selalu mematuhi segala pakem dan nilai-nilai tradisi jawa. Dalam setiap kesempatan berbicara denganku, beliau selalu mengajarkan bahwa garwo berarti sigaraning nyowo, istri itu adalah bagian tak terpisahkan dari diri kita. Dan lembaga pernikahan adalah lembaga yang dianggapnya sangat sakral. Oleh karena itu beliau selalu berpesan jika aku memilih istri, pilihlah ia sekali untuk seumur hidup.
“As, aku takut tak dapat menolong kamu, maksudku untuk menikahimu। Aku tidak mungkin mengkhianati prinsip yang telah aku pegang selama ini. Toh kalau aku mau, bapak dan ibu juga pasti tidak akan setuju dengan rencana itu. Beliau menginginkan sebuah pernikahan itu satu untuk selamanya seperti dalam pakem dan nilai yang selalu beliau pegang teguh selama ini.” Air mata kembali membasahi pipi Astya. Wajahnya tetap tertunduk. “As aku mungkin tak bisa menikahimu, tapi aku akan membantumu menemukan pacarmu itu. Akan aku paksa dia bertanggung jawab!”
“Tidak Mas! Aku nggak mau menikah dengan lelaki pengecut seperti dia. Aku ingin kamu yang menikahiku! Hanya kamu lelaki yang dapat aku percaya.” Astya mengucapkan itu dengan wajah penuh emosi.
“Tapi As, dia kan pacar kamu. Lelaki yang menjadi ayah dari anak dalam kandunganmu itu!”, sergahku kemudian.
“Sejujurnya Mas, selama ini aku selalu menyesali kebodohanku dahulu. Bahkan satu lagi kebodohan kubuat dengan adanya janin ini dalam kandunganku. Tapi apakah aku tidak boleh memperbaiki kesalahan itu dan berharap kepadamu?”
Kata-kata Astya terakhir itu mengguncangkanku. Langsung menohok ke ulu hati. Bukan hanya pertolongan untuk pengakuan terhadap bayi dalam kandungannya saja yang dia inginkan, tapi hal yang lebih jauh, menjadi istriku untuk selamanya.
Aku hanya mampu terdiam, tak tahu apa yang harus kulakukan। Pesan yang disampaikannya sangat jelas. Dia menginginkanku menjadi suaminya. “Ya Allah, apa yang harus saya lakukan.” Andaikata dia mengatakannya sebelum berpisah denganku dulu, tentu aku akan menyambutnya dengan gembira. Tapi sekarang sudah terlambat! Aku tak mungkin mengkhianati prinsip hidupku sendiri. Aku bingung bagaimana mengatakannya tanpa harus menyakiti hatinya. Dalam kebingunganku mencari apologi lain yang dapat menggugurkan niatnya, secara tiba-tiba kukatakan bahwa aku tak mungkin melakukan apa yang diinginkannya. Karena aku sudah mempunyai seseorang yang akan menjadi ratu dalam rumah tanggaku kelak.
“Kamu bohong Mas! Mulutmu mungkin mengatakan seperti itu, tapi matamu tak bisa bohong।” Astya mengatakannya sambil berurai air mata dan lari meninggalkan kiosku. Akupun tak percaya dengan apa yang tiba-tiba aku katakan tadi. Kupandangi kepergiannya sambil menghela nafas berkali-kali. Bungkusan batagor yang dibawanya masih teronggok di kursi panjang. Namun sudah tak ada lagi selera makanku hari ini.
***
Koran lokal pagi ini memuat headline yang hampir sama, ‘Seorang Mahasiswi Tewas Karena Aborsi, Polisi Masih Memburu Kekasih Korban’, ‘Mahasiswi Kedokteran Sebuah PTN Tewas Aborsi, Diduga hasil dari hubungan gelap dengan kekasihnya’। “Wah ndonyane wis arep kiamat, soyo rusak!” komentarku singkat. Berita-berita semacam itu semakin sering menghiasi koran-koran akhir-akhir ini.
Sebuah kijang abu-abu berhenti tepat di depan kiosku. Dua orang polisi datang menghampiriku. Sambil melakukan hormat salah seorang polisi itu menyapaku. “Selamat pagi! Benar Anda yang bernama Ahmad Sulaksono?”
“Benar”, jawabku singkat.
“Anda kenal dengan perempuan yang bernama Agastya Setyorini?”, lanjutnya.
“Kenal, ada apa Pak?” Sejanak kulirik kembali headline koran-koran lokal tadi.
“Kami memerlukan keterangan dari Anda. Silahkan ikut kami ke kantor.” Setelah berkata demikian kedua polisi itu mengapit dan menggelandangku ke dalam mobil kijang warna abu-abu.
Kadipaten, April 2005
Ini tulisan lamaku, lamaaaaa bgt