Kecewa itu yang aku rasakan saat menyaksikan pertandingan sepakbola antara kesebelasan kebanggaanku PSS Sleman melawan Persib Bandung. Hasil seri 1-1 sebenarnya dari segi permainan saling berimbang jadi tidak terlalu mengecewakan. Yang bikin kesel bukan itu, tetapi ulah sebagian kecil dari viking (pendukung persib). Sebagai salah satu slemania (wadah suporter PSS Sleman) sejati kami selalu setia menjaga komitmen untuk menyebarkan virus perdamain ke seluruh suporter sepakbola di tanah air, bahkan internasional jika nanti PSS Sleman go internasional. Oleh karena itu ketika viking datang ke Jogja, kami sambut dengan gembira dan sambutan yang baik.
Rasa kecewa itu bermula ketika menjelang pertandingan aku masuk stadion dan melihat banyak coretan-coretan yang dilakukan oleh sebagian anggota viking di tembok-tembok stadion, padahal stadion maguwoharjo sedang dalam tahap pernyempurnaan. Perilaku vandalisme yang selayaknya tidak dilakukan sebagai tamu yang disambut dengan baik oleh tuan rumah. Berbeda ketika kami kalah di bandung sambil dihujani batu (kalah aja dihujani batum, gimana kalo menang ya, mati mungkin )
Kekecewaan berlanjut dengan rasa sebal ketika sebelum pertandingan beberapa anggota viking berulah dengan membunyikan petasan. Padahal hal itu kan dilarang dalam stadion, tapi salah aparat keamanan juga ya, kok yg beginian masih bisa lolos juga? Memang jauh sebelum pertandingan kedua kesebelasan tersiar kabar bahwa beberapa suporter dari daerah tetangga yang pernah mengalami kejadian tidak mengenakkan di Bandung akan melakukan pembalasan di sleman. Tapi ternyata itu tidak terbukti, pertandingan sendiri sempat tertunda lima menit karena aksi saling lempar antara viking dan slemania ( truely kami gak pernah ingin ada insiden ini, apalagi ini kandang kami). Akhirnya keributan dapat diredam setelah ada lima kali tembakan ke udara oleh aparat keamanan dan bantuan bala slemania yang kemudian memisahkan warna ijo dan warna biru.
Yang sangat disayangkan adalah jatuhnya beberapa korban, seorang slemania yang tepat berada disamping saya, kepalanya bocor terkena lemparan botol kratingdaeng dari si biru (hayah dari mana juga barang ginian bisa masuk coba?). Sebenarnya hal-hal semacam ini tidak perlu terjadi jika suporter Indonesia mau lebih dewasa. Dewasa dalam melihat suatu permasalahan dan bertindak. Lebih mengedepankan akal dan kepala daripada hati yang panas.
Rasa bangga, sebagai slemania aku rasakan karena meskipun kami mengalami pengalaman buruk di Bandung, itu tidak terjadi di Sleman. Bukanya diam karena kami takut, tapi kami lebih mengedepankan rasio. Tidak mungkin menyebarkan virus persahabatan suporter jika menggunakan kekerasan.