Andrew Mattews Says

Hidup Anda Adalah Refleksi Sempurna dari Keyakinan Anda

Jumat, 28 September 2007

My lovely work

Jika engkau orang yang berkemampuan, jadilah pedagang. Namun jika engkau mutunya setengah-setengah jadilah pegawai

Shibusawa Eiichi


Hmmm….. sudah menginjak pertengahan bulan puasa, sebentar lagi musim liburan menyambut hari raya lebaran (atau kalo umat muslim menyebutnya Idul Fitri). Waktu yang sebenarnya bagi sebagian orang merasakan kenyaman liburan. Tapi buat aku tidak begitu, masa datangnya liburan bagiku adalah saat ­­­­­kerja harus semakin dimaksimalkan, liburan berarti panen buat kami. Maklumlah sebagai penjual buku moment liburan keluarga adalah saat yang paling dinanti. Ketika liburan biasanya banyak keluarga, terutama yang dari luar Jogja, memanfaatkannya untuk berbelanja, tidak terkecuali buku tentu saja.


Oh ya, aku belum cerita tentang pekerjaanku ya, seperti yang sudah aku singgung tadi pekerjaanku adalah penjual buku (orang Jogja menyebutnya bakoel boekoe) di komplek pasar buku Taman Pintar. Dulu komplek ini dinamakan Shopping Centre ( untuk tempat ini, sejarah, dan bagaimana kiprahnya sampai sekarang, nanti akan aku tulis tersendiri). Balik lagi ke soal pekerjaanku, jualan buku itu enak lho (hehehhe rada promosi sedikit gak papa ya…), selain dapat duit, kita juga dapat baca buku sepuasnya (inilah yang bikin aku betah dan sangat mencintai pekerjaan ini), lha yo pasti to wong dagangannya milik kita sendiri hehehehehhe….Selain itu juga kita bisa sering ketemu berbagai jenis orang (halah … emang ada berapa jenis orang sih?? Shshuuuth!! aku juga ga tau) tapi maksudku kita dapat bertemu dengan berbagai macam karakter orang dengan berbagai keunikannya masing masing. Dari mulai seniman macam Dhani Dewa sampai seniman kampung yang nyentrik, ulama terkenal, ulama tarkam, bahkan anggota DPR, pokoknya asyik deh … heheheh, pengen to…..?


Tapi memang nggak semuanya indah (Emang ada yang sempurna? Klo itu sih sorga kali…). Sering juga ngalamin hal-hal yang menjengkelkan, yang paling sering tuh orang yang sok tahu tapi benernya ra dong blas (ngga dong sama sekali). Tapi kadang juga bikin kita ketawa dan senewen.


Contohnya ada mahasiswa yang tidak bisa membedakan antara edisi (keluaran buku) dan jilid (penggalan atau bagian buku), Dia tanya buku Dasar-dasar Akuntansi karangan A.L. Haryono Yusuf jilid satu edisi ke enam, tapi tanyanya gini : “Pak, ada buku Dasar-dasar Akuntansi karangan A.L. Haryono Yusuf jilid enam edisi satu (nah lho padahal jilidnya cuman sampai dua aja). Trus kan aku jawab, “ Mas yang ada buku Dasar-dasar Akuntansi karangan Pak Haryono Yusuf itu jilid satu dan dua, memang edisinya sudah sampai keenam”. Dan dijawab “Wah ga bisa, dosen saya itu pakenya yang jilid enam edisi satu!”. (halah malah bawa-bawa dosennya segala) . Ya sudah, kalau Mas-e ga punya saya cari yang lain aja! (waduh, lha sampe kemanapun juga ga akan dapat bukunya to…. hehehheeheh… padahal dia menyandang status mahasiswa lho..).


Paling sedih kalau kita dituduh macem-macem, dari mulai menaikkan harga (padahal dari penerbit sudah ada standar baku harga sebelum diskon), oh ya kalau belanja buku di kiosku TB. EMPAT PUTRA pasti dapat diskon (diskonnya tergantung dari penerbitnya). Tentang buku bajakan( paling tidak sejak aku mulai usaha ini tujuh tahun yang lalu) aku dah punya komitmen hanya jualan buku asli (bukan copy-an atau bajakan), jadi aman kok kalau belanja di tempatku, pasti dapat barang yang bermutu dengan harga yang murah (halah iklan…hehehhe gpp ya…. kan cuman dikit).


Pernah suatu kali ada orang yang membeli buku teks hukum, dengan semena-mena mengatakan kalau buku yang aku jual itu buku bajakan. Dia berargumen bahwa buku yang dijual di Taman Pintar adalah buku bajakan semua. Wah rasanya mau marah aja saat itu. Tapi syukurlah kepala tetap dingin, aku jawab dengan enteng saja. “Saya yakin Mas orang pandai, karena Mas mencari buku-buku teks hukum, asumsinya sedikit banyak anda orang yang terpelajar paling tidak mengerti hukum. Tetapi jelas anda tidak paham dua hal. Pertama, anda tidak paham membedakan antara buku asli dan buku bajakan. Kedua anda paham jika tindakan pembajakan buku itu melanggar hukum, tetapi anda tidak paham jika tuduhan yang tidak dapat dibuktikan juga dapat dikenai pasal yang berlapis, yaitu penghinaan, pencemaran nama baik, dan perbuatan tidak menyenangkan”. (pucat pasi wajah mas-mas itu, emang enak, dianggapnya semua penjual buku bodoh, lha yang bisa bikin Pak Amin Rais jadi profesor itu siapa? Ya tanya sendiri dong sama Pak Amin hehehheeheh….) tapi tidak semua konsumen seperti itu, masih banyak yang baik-baik, itu tadi sekadar pembelajaran buat dia supaya lebih berhati-hati terhadap orang lain, seperti yang ada diiklan itu lho “Mulutmu, harimaumu”.


Ada manfaat lain yang aku dapatkan sebagai bakoel boekoe, yaitu tambah banyak teman. Dari kalangan mana saja dan dari latar belakang disiplin ilmu apapun. Dari mereka-mereka itu juga aku banyak mencuri ilmu (tapi ini pencurian yang legal kok). Rata-rata langganan (pelanggan setia,ind) sudah seperti teman sendiri, mereka betah berlama-lama di kios hanya sekadar untuk ngobrol dan bertukar fikiran meski buku yang mereka butuhkan belum ditemukan atau hanya dapat satu.


Finnaly, aku sangat menikmati pekerjaanku saat ini, bahkan tingkatnya sudah sampai mencintainya. Jika kamu-kamu sudah mencintai pekerjaanmu tidak akan pernah ada rasa bosan dalam bekerja, karena kamu dan pekerjaanmu adalah satu.

Kamis, 27 September 2007

Segenggam Cerita dari Dusun Bengkak


Kemaren aku baru pulang dari tempat KKNku dulu, dusun Bengkak desa Kanigoro Gunung Kidul. Meski sekarang sudah dua tahun berlalu, tetapi keramahan dan kehangatan masyarakatnya masih sangat membekas dan tidak berubah. Mereka menyambut kami bak anaknya sendiri yang baru pulang dari rantau. Dan hebatnya, disana kami bukan seperti sedang bertamu, serasa berada di rumah sendiri. Memang banyak kenangan di sana, perjuangan yang sangat berat untuk meyakinkan penduduk agar bisa menerima kami. Mengajak untuk ikut kegiatan, mau bekerjasama untuk mewujudkan program,dan perpisahan yang sangat mengharukan.

Kebayang ga si, gimana rasanya ketika untuk perkenalan pertama dengan warga di balai dusun aja, ternyata yang datang hanya tujuh orang. Akhirnya kami putuskan untuk sosialisasi dor to dor, syukurnya metode iniu cukup berhasil, malah mereka jadi akrab dengan kami yang hanya berenam untuk satu dusun. Usut punya usut ternyata warga sanga tkecewa dengan KKN yang sebelumnya, karena dulu banyak janjinya tapi ga ada realisasi, fiuh.. klo kayak gitu kasihan kan yang KKN selanjutnya, mending gak banyak janji tapi langsung ada realisasi. Dari sini kami dapat belajar banyak hal, salah satunya jangan banyak janji, yang penting adalah apa yang dapat kamu lakukan maka lakukanlah.

Tapi kejutan pertama yang bikin syock bukanlah pada acara perkenalan itu. Kejutan pertama terjadi waktu kami baru saja datang di pondokan. Baru selesai kami bongkar barang bawaan kami di rumah pondokan yang kami tempati. Di pendopo rumah sudah berkumpul kurang lebih tigapuluh orang anak yang langsung mengajak belajar!! Deg.... Sesaat kami terbengong-bengong menghadapi kenyataan yang ada di depan mata, rasa haru menyelimuti, anak-anak kecil ini punya semangat sangat besar untuk belajar! Satu lagi pelajaran yang dapat kami petik dari sini, masih banyak anak Indonesia yang mempunyai semangat belajar, tapi kesempatan dan biaya tidak mereka dapatkan. Dan setiap malam selama dua bulan kami disana, tidak pernah absen seharipun anak-anak itu belajar bareng kami setelah shalat maghrib bersama. Ada bonus yang sangat menghibur kami setiap harinya, mereka senang kalau bernyanyi. Jadi setiap malam setelah belajar ada live show. Anak-anak itu berlomba-lomba untuk tampil bersama kelompok belajar masing-masing. Mereka saling bersaing antar kelompok belajar untuk menampilkan performa terbaik mereka.

Hehehe anehnya, setelah kami kenal, ternyata banyak masalah warga yang terus dicurhatin ke kami, mulai dari masalah pertanian, peternakan, pendidikan sampe kesehatan. Tiap hari ada aja yang datang buat periksa kesehatannya ke kami, padahal diantara kami tidak ada yang mempunyai basic pendidikan di bidang kedokteran dan kesehatan. Akhirnya Mita si anak Hukum jadi mantri pocokan selama KKN. Jadi buat programnya malah sangat terbantu, ga susah-susah cari. Tapi dari situ kami jadi takut juga karena kesannya anak KKN itu dianggap pinter banget, tau segala sesuatu, padahal kita juga masih pada bego, malah kadang kita terbengong-bengong dengan pertanyaan yang sederhana.

Yang susah adalah buat menggerakkan untuk bareng-bareng ngejalanin program. Kalau ga ada event wah susahnya minta ampyun. Ternyata kedekatan dengan perangkat desa merupakan resep yang ampuh. Bisa megang perangkat desa memudahkan untuk memobilisasi massa, meski begitu kami membatasi tidak terlalu banyak mengundang warga agar program yang dijalankan bisa lebih efektif dan mudah diaturnya.


Suasana sangat berbeda terjadi ketika kami pamitan malam hari sebelum penarikan. Malam hari sebelum penarikan kami mengadakan pamitan dengan warga, sungguh kami tidak pernah mengira ketika kami pamitan seluruh warga dusun hadir untuk melepas kami, tua muda sampai anak-anak. Acara itu diakhiri dengan "dahar kembul", nasi dihidangkan diatas tampah, dan dimakan bersama-sama, disitu tidak ada lagi anak KKN atau warga dusun Bengkak, yang ada adalah sebuah keluarga besar yang baru saja terbentuk. Ikatan kekeluargaan yang sampai sekarang masih kami rasakan.


Setelah acara perpisahan itu kami berenam menangis, sangat berat meninggalkan dusun ini. Banyak suka duka dan susah senang yang telah kami jalani selama dua bulan kebersamaan. Membayangkan kami berenam tidak lagi berkumpul dalam sebuah rumah. Tidak makan bareng lagi tiap harinya, tidak ada lagi begadang sampai malam. Tidak ada canda, diskusi, yang terjadi ketika main remi dan gaple. Pokoknya banyak yang akan hilang deh. Paginya,saatnya penarikan dari lokasi KKN, pagi-pagi sekali pondokan KKN sudah dipenuhi warga, kami belum juga mandi, masih kucek-kucek mata. Mereka ingin mengantar kami sampai Balai Desa yang jaraknya sekitar tiga kilometer. Lontaran kata-kata "Mas-Mbak besok masih kesini lagi kan?", "Mas, janji ya besok masih mau main kesini lagi ya!"hanya sanggup kami jawab dengan anggukan kepala. Untuk membuktikan kesungguhan kami, beberapa barang bawaan sengaja kami tinggalkan dipondokan. "Kami pasti kembali kesini", itu janji yang kami ucapkan waktu itu. Waktu perpisahan pun tiba, kami meninggalkan desa Kanigoro untuk kembali ke dunia yang selama dua bulan kami tinggalkan untuk belajar di desa ini. Kembali ke dusun ini menghidupkan lagi memori-memori tadi.


Suasana yang sangat tenang di dusun itu sangat enak banget, apalagi kalau kita lagi sumpek, dijamin fresh lagi deh. Berkunjung ke beberapa warga, melihat perkembangan di dusun, ternyata asyik banget. Sore hari akhirnya kami singgah di pondokan KKN, rumah dan kehangatan didalamnya tidaklah berubah, perubahan yang terjadi hanyalah penghuninya yang bertambah, sekarang lagi ditempati buat KKN anak-anak UAJY.

Asyik ngobrol, berbagi pengalaman selama perpisahan dan mengenang masa lalu, ternyata sampai bisa membuat lupa waktu, hanya diselingi sholat maghrib dan isya' tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 21.00, kami pun pamit pulang, karena paginya harus kembali ke pekerjaan dan aktivitas masing-masing. Pukul 23.30 HP ku berbunyi, ternyata Bapak Bengkak, beliau menyempatkan menelpon satu-persatu apakah kami sudah sampai di rumah dengan tak kurang suatu apa pun. Tidak salah jika kami menganggap beliau seperti orangtua sendiri atas ketulusan yang beliau tunjukkan. Tak terasa ternyata kami sudah jatuh cinta terhadap Bengkak dan warganya.

Sembah Sungkem kagem Bapak Kasiyono (Bapak Bengkak) lan sedoyo keluargo dusun Bengkak.



KKN Pilkada 2005

Selasa, 25 September 2007

GETIR


Aku baru selesai menata dagangan ketika Astya datang. Hari yang panas membuat titik peluh menghiasi dahinya, sebagian mengalir melalui anak rambutnya. Tiga tahun telah berlalu sejak hubungan kasih antara kami terputus. Awal percintaanku dengannya sangatlah konyol dan menggelikan. Waktu itu aku adalah kapten tim voli sekolah dan dia adalah adik kelasku. Bukannya memberi semangat kami untuk memenangkan kejuaraan tapi dia malah mengejek kami. “Sudahlah Mas, ga mungkin menang, serius amat latihannya!” Rasa jengkel memenuhi rongga dadaku, “Siapa bilang tim kita akan kalah? Lihat saja nanti, kami pasti jadi juarannya!” Tidak ada yang boleh meremehkan timku. “Ah, gak mungkin, berani bertaruh?”, lanjut Astya dan gengnya waktu itu. “Ok, siapa takut? Apa taruhannya?”, timpalku tak mau kalah. “Kalau kamu kalah, kamu harus traktir kami selama tiga bulan berturut-turut di kantin sekolah”. “Dan bagaimana kalau tim kita menang? Hm…Kalau tim kita menang kamu harus jadi pacarku. Bagaimana? Berani?” potongku langsung. Teman-teman setimku senyum-senyum mendengar syaratku, “Mampus kau Astya, main-main sama Ahmad, kena batunya kau!” Astya terlihat diam sesaat, tapi karena sudah terlanjur menantang taruhan, ia malu untuk menariknya kembali, maka disetujuinya pertaruhan itu.



Nasib baik berpihak padaku, tim kami yang belum pernah meraih gelar juara sekalipun memenangkan kejuaraan itu। Dan mulai saat itu kami jadian. Hubungan yang awalnya sebuah pertaruhan itu kemudian malah berubah benar-benar menjadi hubungan cinta. Bahkan kedua orang tua kami pun sudah sama-sama menyetujui pertalian itu. Sampai kira-kira tiga tahun yang lalu, kupergoki dia sedang jalan bergandengan dengan kakak angkatannya di sebuah mall. Keputusan yang emosional kubuat waktu itu, melihat dia jalan dengan laki-laki lain. Sang ego begitu tingginya sehingga mengalahkan rasio, dan putuslah jalinan tali kasih antara kami.


Dari tempat parkir motor sudah dilemparkannya senyum kearahku. Anggukan kepala kuberikan untuk menyambut senyum yang dilemparkannya. Masih seperti tiga tahun yang lalu, tanpa permisi langsung masuk ke dalam kiosku. Begitulah adat kelakuannya, tak pernah sungkan-sungkan terhadap siapa saja dan selalu terbuka. ”Laris Mas jualannya?”, seraya duduk di bangku panjang. “Yah lumayan, yang penting bisa buat hidup”. Aku mengambil tempat duduk di sebelah kanan Astya namun tak berani menatap wajahnya. Setelah itu, suasana dalam kios serasa beku. Kami hanya saling diam, tenggelam dalam perasaan dan pikiran masing-masing.


Gunung es yang tiba-tiba timbul dalam kiosku mulai meleleh saat dia bertanya, ”Gimana kabarnya Mas selama ini, ibu-bapak sehat semua ?” Sebuah pertanyaan yang umum sebenarnya। Tapi menjadi aneh kedengaran ditelingaku karena yang menanyakan Astya। Perempuan yang tak pernah menyukai basa-basi dan suka mengungkapkan apa yang dia pikirkan secara langsung. “Baik. Bapak ibu juga sehat semua, kamu sendiri gimana?” Sesaat pandanganku mengarah ke wajahnya. “Hmm, baik”, seraya menundukkan wajahnya. Tapi sebuah gurat kesedihan sempat tertangkap oleh pandanganku meskipun segera ditutupnya dengan senyum. Segera kualihkan pembicaraan ke topik yang lain “Ada apa ini, kok njanur gunung sempat mampir ke kios?”. Aku berfikir pasti ada sesuatu yang luar biasa yang sampai membawanya datang kepadaku. “Ah, gak ada apa-apa kok, cuman mau main sama kasih sesuatu ke Njenengan.”, sambil mengangsurkan sepucuk surat dengan kedua tangannya. Kuterima surat itu dengan perasaan heran. Aku masih terbengong-bengong atas apa yang baru saja terjadi. “Aku pulang dulu ya Mas! Ada praktikum di kampus siang ini.”, kata-kata Astya itu menyadarkanku. Hanya anggukan kepala yang sanggup kulakukan untuk menjawab pamitan Astya.



Tulisannya jelas adalah tulisan Astya। Tulisan tangan yang tak terlalu rapi. “Dasar calon dokter”, batinku dalam hati. Kubuka amplop surat itu. Berkali-kali surat itu kubaca dan kurenungkan. Dalam surat itu semua hal yang terjadi setelah berpisah denganku dibukanya. Sebuah pertentangan batin yang hebat berkecamuk dalam kalbuku. Di satu sisi masih terbersit rasa sayangku terhadapnya. Astya memang cinta pertamaku, segala daya dan pengorbanan telah banyak kulakukan untuk membimbingnya menjadi calon istri seperti yang kuinginkan. Tapi jalan kehidupan memang menentukan lain. Aku harus mengalami peristiwa yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Dia ternyata menduakanku.


Di sisi yang lain, sudah menjadi pedoman hidupku bahwa aku hanya memberi kesempatan sekali saja kepada seorang perempuan untuk menjalin cinta denganku। Jika kami tak mampu mempertahankannya, dan ditengah jalan kemudian harus putus, maka kuanggap memang kami tidak berjodoh. Bagiku, tidak berlaku peribahasa jawa, “Teklek keceblung kalen, tinimbang golek aluwung balen.” Tak ada kata mengulang percintaan dalam kamus hidupku. Sebagai konsekuensi dari pedoman hidupku, aku benar-benar memperjuangkan calon pasangan hidupku itu, dengan satu syarat, dia tidak mengkhianati kepercayaan yang telah aku berikan. Dan itu telah dilanggarnya.


***


Hari ini, aku telah menetapkan hati। Sebuah keputusan telah kuambil, kisah asmara kami tidak dapat disambung kembali. Aku akan menyayangi Astya sebagai seorang teman, seorang sahabat, yang akan selalu ada baginya dikala suka maupun duka. Segera kuhubungi nomor HP-nya dahulu ­---semoga nomornya belum ganti--- nada panggil berdering. “Hallo”, terdengar suara dari seberang. “Assalamu’alaikum, Astya ya?”, agak ragu kucoba memastikan. “Wa’alaikum salam. Benar, ah Mas Ahmad! Ada apa Mas?” Suara Astya sedikit bergetar, mungkin tak menyangka aku akan menelponnya siang ini. “Aku sudah baca surat kamu, oh ya, kamu ada waktu nggak? Aku pengen ngomong sama kamu.” Kini giliran suaraku yang sedikit tercekat, ada sesuatu yang berdesir di hati ini. “Ok, habis ini aku ke kios deh. Eh, Mas udah makan belum? Aku bawakan makanan ya.” Nada suaranya sedikit berubah, ada rona harapan tersirat didalamnya. “Terserah kamu aja As, assalamu’alaikum.”


Selesai sholat Dzuhur aku bergegas kembali ke kios yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari masjid। Matahari siang ini bersinar terik. Panasnya terasa membakar kulit. Begitu aku masuk Astya telah nongkrong di bangku panjang kios. Aku menyapanya lebih dahulu agar tidak terjadi kebekuan seperti tempo hari. Kutanyakan apa dia sudah lama menunggu. Dia menjawabnya dengan gelengan kepala. “Ught॥! Kenapa anak ini jadi pendiam seperti ini sekarang”, gumanku dalam hati. Aku tak siap dengan sikap diamnya ini. Lidahku seakan jadi kelu untuk meneruskan pertanyaanku tadi dan aku hanya terdiam. “Mas, katanya mau ngomong sama aku. Kok malah diem sih?” Teguran itu menyadarkanku. “Eh ya, begini As, aku sudah baca surat kamu”, sampai disini lidahku tercekat. Kulihat Astya memandangku, matanya yang bulat berkejam-kejap, setelah itu dia menundukkan mukanya. Seperti seorang pesakitan yang menunggu vonis dari hakim. Celakanya, hakim itu adalah aku! “As, kamu kan paham betul prinsipku. Dan itu sudah kukatakan sejak awal hubungan kita dahulu”. Wajah Astya semakin menunduk. Ia mengangguk mengamini apa yang kukatakan. “ Kita tidak mungkin kembali seperti yang dulu lagi. Kamu mengerti kan? Tapi aku akan tetap menjadi sahabatmu, di kala kamu senang maupun susah.” Tetes air mata berderai dari kedua pelupuk mata Astya. “Tapi Mas! Bagaimana dengan bayi dalam kandunganku ini? Aku memang salah Mas, tapi please!. Pengecut itu berhasil memperdayaku dan pergi setelah menanamkan benihnya, aku tak punya siapa-siapa lagi. Hanya kamu satu-satunya harapanku Mas! Tolong aku! Nikahilah aku, setidaknya sampai bayi ini lahir. Aku nggak mau bayi ini lahir tanpa bapak!”


Aku duduk termangu। Berbagai pikiran campur-aduk dalam benakku. Kupandangi wajah Astya sekali lagi. Aku bisa saja menerimanya, membantunya keluar dari masalah, dan kemudian menceraikannya saat bayi itu sudah lahir, tapi itu artinya aku akan melepas prinsip yang kupegang selama ini. Belum lagi dengan Bapak dan Ibu, beliau berdua pasti akan dengan keras menolak. Beliau selalu mematuhi segala pakem dan nilai-nilai tradisi jawa. Dalam setiap kesempatan berbicara denganku, beliau selalu mengajarkan bahwa garwo berarti sigaraning nyowo, istri itu adalah bagian tak terpisahkan dari diri kita. Dan lembaga pernikahan adalah lembaga yang dianggapnya sangat sakral. Oleh karena itu beliau selalu berpesan jika aku memilih istri, pilihlah ia sekali untuk seumur hidup.


“As, aku takut tak dapat menolong kamu, maksudku untuk menikahimu। Aku tidak mungkin mengkhianati prinsip yang telah aku pegang selama ini. Toh kalau aku mau, bapak dan ibu juga pasti tidak akan setuju dengan rencana itu. Beliau menginginkan sebuah pernikahan itu satu untuk selamanya seperti dalam pakem dan nilai yang selalu beliau pegang teguh selama ini.” Air mata kembali membasahi pipi Astya. Wajahnya tetap tertunduk. “As aku mungkin tak bisa menikahimu, tapi aku akan membantumu menemukan pacarmu itu. Akan aku paksa dia bertanggung jawab!”


“Tidak Mas! Aku nggak mau menikah dengan lelaki pengecut seperti dia. Aku ingin kamu yang menikahiku! Hanya kamu lelaki yang dapat aku percaya.” Astya mengucapkan itu dengan wajah penuh emosi.
“Tapi As, dia kan pacar kamu. Lelaki yang menjadi ayah dari anak dalam kandunganmu itu!”, sergahku kemudian.
“Sejujurnya Mas, selama ini aku selalu menyesali kebodohanku dahulu. Bahkan satu lagi kebodohan kubuat dengan adanya janin ini dalam kandunganku. Tapi apakah aku tidak boleh memperbaiki kesalahan itu dan berharap kepadamu?”
Kata-kata Astya terakhir itu mengguncangkanku. Langsung menohok ke ulu hati. Bukan hanya pertolongan untuk pengakuan terhadap bayi dalam kandungannya saja yang dia inginkan, tapi hal yang lebih jauh, menjadi istriku untuk selamanya.


Aku hanya mampu terdiam, tak tahu apa yang harus kulakukan। Pesan yang disampaikannya sangat jelas. Dia menginginkanku menjadi suaminya. “Ya Allah, apa yang harus saya lakukan.” Andaikata dia mengatakannya sebelum berpisah denganku dulu, tentu aku akan menyambutnya dengan gembira. Tapi sekarang sudah terlambat! Aku tak mungkin mengkhianati prinsip hidupku sendiri. Aku bingung bagaimana mengatakannya tanpa harus menyakiti hatinya. Dalam kebingunganku mencari apologi lain yang dapat menggugurkan niatnya, secara tiba-tiba kukatakan bahwa aku tak mungkin melakukan apa yang diinginkannya. Karena aku sudah mempunyai seseorang yang akan menjadi ratu dalam rumah tanggaku kelak.


“Kamu bohong Mas! Mulutmu mungkin mengatakan seperti itu, tapi matamu tak bisa bohong।” Astya mengatakannya sambil berurai air mata dan lari meninggalkan kiosku. Akupun tak percaya dengan apa yang tiba-tiba aku katakan tadi. Kupandangi kepergiannya sambil menghela nafas berkali-kali. Bungkusan batagor yang dibawanya masih teronggok di kursi panjang. Namun sudah tak ada lagi selera makanku hari ini.


***


Koran lokal pagi ini memuat headline yang hampir sama, ‘Seorang Mahasiswi Tewas Karena Aborsi, Polisi Masih Memburu Kekasih Korban’, ‘Mahasiswi Kedokteran Sebuah PTN Tewas Aborsi, Diduga hasil dari hubungan gelap dengan kekasihnya’। “Wah ndonyane wis arep kiamat, soyo rusak!” komentarku singkat. Berita-berita semacam itu semakin sering menghiasi koran-koran akhir-akhir ini.
Sebuah kijang abu-abu berhenti tepat di depan kiosku. Dua orang polisi datang menghampiriku. Sambil melakukan hormat salah seorang polisi itu menyapaku. “Selamat pagi! Benar Anda yang bernama Ahmad Sulaksono?”
“Benar”, jawabku singkat.
“Anda kenal dengan perempuan yang bernama Agastya Setyorini?”, lanjutnya.
“Kenal, ada apa Pak?” Sejanak kulirik kembali headline koran-koran lokal tadi.
“Kami memerlukan keterangan dari Anda. Silahkan ikut kami ke kantor.” Setelah berkata demikian kedua polisi itu mengapit dan menggelandangku ke dalam mobil kijang warna abu-abu.

Kadipaten, April 2005
Ini tulisan lamaku, lamaaaaa bgt

Kamis, 20 September 2007

SENDAL

Sebuah tulisan yang mencolok ditempelkan pada tangga masjid, “ALAS KAKI DILEPAS DIBAWAH TANGGA”, tapi bukan tulisan mencolok itu yang membuat orang yang membacanya kaget, dan sering malu dibuatnya. Sebaris tulisan kecil dalam bingkai blok dibawah tulisan itulah yang menjadi biang keladinya. Tulisan itu berbunyi”Kecuali bagi yang buta mata dan hatinya”. Sekilas memang tampak kasar. Namun bila dirunut mengapa bisa muncul tulisan itu maka akan memakluminya.

Tulisan itu muncul karena akumulasi dari kejengkelan terhadap orang yang beristirahat di teras Masjid (kebetulan dekat dengan taman bermain) dengan "Memakai Sendalnya", padahal setiap hari Jum'at teras itu selalu digunakan untuk shalat jum'at. Bahkan hari-hari biasa pun sering dipakai shalat jika jamaah sedang penuh. Yang kadang bikin ati empot-empotan tuh ada orang yang jelas-jelas menggunakan atribut muslim yang masih juga melakukannya. Lha kalo umat muslim sendiri tidak bisa menghargai tempat sucinya, bagaimana kita mau dihargai oleh orang lain? Kesel banget rasanya.

Tapi syukurlah tulisan itu tidak berumur lama, lebih kurang seminggu kemudian tulisan itu sudah berganti wajah dengan tulisan yang lebih menyejukkan mata, "KEBERSIHAN ADALAH SEBAGIAN DARI IMAN, mohon meninggalkan alas kaki di bawah tangga". Intinya tetep sama sih tapi bahasanya lebih halus dan tidak kasar. Tapi masih aja ada yang ngeyel, entah karena nggak ngliat atau nggak mau tahu, sampai kadang-kadang jamaah masjid harus mengingatkan sambil geleng-geleng kepala.

Mungkin bagi sebagian orang hal ini sederhana aja, cuman masalah sendal yang dipakai di masjid, tapi kalau kita renungkan lagi, kok sepertinya nilai-nilai etika dan norma-norma kesopanan sudah banyak yang luntur ya? Apakah karena masyarakat kita yang semakin permisif ? Atau mungkin karena pendidikan sekarang terlalu banyak menuntut siswa untuk menghafal dan menghitung sehingga sudah lupa untuk mengajarkan etika dan sopan santun? (Eh tapi apa mereka semua pernah sekolah ya?), aduh pusing deh! Berbagai pertanyaan itu masih muter di kepalaku sampai sekarang dan belum ketemu jawabnya.

Jumat, 14 September 2007

salam pembuka






Hai temen-temen!!!
Selamat datang di blogku, masih sederhana sih tapi pasti nantinya akan disempurnakan.
Maklum kan baru belajar, jadi sambil jalan aja ya perbaikannya. Insya Allah nanti semakin baik.
Harapanku dengan adanya media ini dapat menjadi salah satu tempat buat menumpahkan pemikiranku yang kadang-kadang dianggap aneh oleh orang kebanyakan. Tentu temen-temen juga dapat menumpahkan pemikirannya disini, boleh mengomentari, menyanggah dan sebagainya. but gak boleh ada sara dan pornografi (termasuk mencaci dengan kata-kata yang tidak pantas).

Ok segini dulu ya
sambung lagi nanti