Andrew Mattews Says

Hidup Anda Adalah Refleksi Sempurna dari Keyakinan Anda

Senin, 31 Desember 2007

rindu padamu

sayangku
kurindu dekapmu
desah nafas cintamu
dalam malam-malam sujudku

sayangku
hati ini hampa
terasa sangat jauh
bahkan panggilanmu terdengar sayup-sayup

sudah bosankah engkau
dengan ratapku,
rengekanku
keluh kesahku

sayangku aku membutuhkanmu
jangan tinggalkan aku
kupercayakan onggok daging ini
dalam luasnya samudra cintamu

RW

Rabu, 14 November 2007

Beli-Beli

Beli... beli... beli... tiba-tiba ponakanku berguling-guling sambil menangis. Aku yang baru pertama kali liat ulah yang seperti itu terbengong-bengong. Usut punya usut, beli-beli yang dimaksud itu itu ternyata dia minta dibelikan sesuatu di toko karena merasa dinakali oleh kakaknya. Waktu diajak ke toko untuk membeli barang yang dimaksudkan dia malah kebingungan untuk milih barang yang mau dibeli. Nah lho apa hubungannya antara dinakali dengan beli barang? Aku juga nggak mudeng hubungannya. Tapi ada yang menarik dari kejadian itu. Bahwa budaya konsumerisme ternyata secara pelan-pelan telah menyusup sampai ke anak kecil. Budaya suka belanja bahkan untuk hal-hal yang kita belum tau apa kegunaannya.

Mungkin dalam kasus ini kita bisa berasumsi bahwa, gak semua kok kayak gitu, tergantung ortunya juga. Kalau bisa mendidik anaknya gak begitu-begitu amat. Pendapat itu juga ada benarnya. Tapi yang perlu kita perhatikan adalah sedikit demi sedikit tanpa terasa kita terjatuh dalam jebakan konsumerisme. Pelan tapi pasti dia memcengkeram kita melalui kampanye tentang kemudahan yang akan dinikmati, bungkus yang menarik sampai angan-angan hadiah bermilyar-milyar.

Alih-alih alasan yang digunakan adalah, "Terserah gue dong, gue mampu kok!", atau "Kalau tetangga sebelah bisa kenapa kita tidak?" Eh tapi jangan-jangan kita tidak merasa ya kalau sudah jadi anggota dari bangsa konsumen?


Kamis, 01 November 2007

Married is Menikah....


Menikah,

sebuah kata yang bagi seseorang bisa menggembirakan, tetapi juga bisa berarti musibah bagi yang lain. Ketika aku menengok sejenak ke dalam benak seorang gadis, bahkan dia berpikir bahwa menikah adalah keputusan yang mengerikan, penuh ketakutan dan ketidakpastian. Dia terombang-ambing antara siap dan tidak siap. Pertanyaan-pertanyaan yang terus memburu untuk segera menikah karena usia yang terus merambat seakan menjadi santapan sehari-hari bagi dirinya.

Ingin rasanya segera melaksanakan apa yang diminta, tetapi rasa takut akan bayangan-bayangan yang berputar di benaknya terus menghantui. Menikah seakan berada di hutan belantara yang membingungkan, asing, dan penuh hantu yang setiap saat siap menerkam dan melumatnya. Membayangkan akan berada dalam satu ruangan, berbagi tempat tidur dengan seorang laki-laki, merasakan bau tubuhnya, wow, itu teramat susah dia terima.

Belum lagi cara berpikirnya, dia tidak suka dengan hal-hal yang tidak pasti, everything must be under control, katanya. Menikah, itu membuat sebuah jejaring ketidakpastian dalam hidupnya. Dan dia membenci ketidakpastian! Tapi dia tetap ingin menikah, menghilangkan kalimat-kalimat yang semakin sering mengganggunya. "Kapan kamu mau nikah?" kalimat tanya ini sudah didengarnya lebih dari lima ratus kali kalau tidak salah ingat. Dan kalimat "Gimana, sudah ada calonnya belum?" bertengger di urutan kedua dengan jumlah tiga ratus tujuh puluhan kali.

Ah.. itukah alasannya untuk menikah? Pikirannya memberontak, tidak, dia tidak berpikir menikah untuk membungkam mulut-mulut yang selalu usil bertanya itu. Setidaknya itu bukan alasan utamanya. Terus apa alasan dia untuk menikah? Dia mencintai pria diseberang lautan itu, dia ingin selalu berdekatan dengan pria itu. Itukah alasannya untuk menikah? Aku sudah berusaha mengaduk-aduk isi benaknya, tapi dengan sangat pandai dia menyimpan alasan itu entah di bagian mana dari benaknya.

Sepertinya dia hanya menyimpan alasan itu untuk dirinya sendiri. Well, aku tidak bisa menyalahkannya, tapi coba aku bisa mengintip sedikit saja, maka kita dapat berbagi barang sedikit informasi itu. Tapi sudahlah, aku sudah tidak bernafsu lagi untuk menjelajahi benaknya. Rohku terlalu lelah untuk membuka lembar demi lembar jutaan megabite memori yang dipunyainya.




NB: Gambar dipinjam dari blognya Mas Rony di rony.dgworks.net Makasih Mas Rony

Minggu, 21 Oktober 2007

Kecewa, Sebal, tapi juga Bangga

Kecewa itu yang aku rasakan saat menyaksikan pertandingan sepakbola antara kesebelasan kebanggaanku PSS Sleman melawan Persib Bandung. Hasil seri 1-1 sebenarnya dari segi permainan saling berimbang jadi tidak terlalu mengecewakan. Yang bikin kesel bukan itu, tetapi ulah sebagian kecil dari viking (pendukung persib). Sebagai salah satu slemania (wadah suporter PSS Sleman) sejati kami selalu setia menjaga komitmen untuk menyebarkan virus perdamain ke seluruh suporter sepakbola di tanah air, bahkan internasional jika nanti PSS Sleman go internasional. Oleh karena itu ketika viking datang ke Jogja, kami sambut dengan gembira dan sambutan yang baik.

Rasa kecewa itu bermula ketika menjelang pertandingan aku masuk stadion dan melihat banyak coretan-coretan yang dilakukan oleh sebagian anggota viking di tembok-tembok stadion, padahal stadion maguwoharjo sedang dalam tahap pernyempurnaan. Perilaku vandalisme yang selayaknya tidak dilakukan sebagai tamu yang disambut dengan baik oleh tuan rumah. Berbeda ketika kami kalah di bandung sambil dihujani batu (kalah aja dihujani batum, gimana kalo menang ya, mati mungkin )

Kekecewaan berlanjut dengan rasa sebal ketika sebelum pertandingan beberapa anggota viking berulah dengan membunyikan petasan. Padahal hal itu kan dilarang dalam stadion, tapi salah aparat keamanan juga ya, kok yg beginian masih bisa lolos juga? Memang jauh sebelum pertandingan kedua kesebelasan tersiar kabar bahwa beberapa suporter dari daerah tetangga yang pernah mengalami kejadian tidak mengenakkan di Bandung akan melakukan pembalasan di sleman. Tapi ternyata itu tidak terbukti, pertandingan sendiri sempat tertunda lima menit karena aksi saling lempar antara viking dan slemania ( truely kami gak pernah ingin ada insiden ini, apalagi ini kandang kami). Akhirnya keributan dapat diredam setelah ada lima kali tembakan ke udara oleh aparat keamanan dan bantuan bala slemania yang kemudian memisahkan warna ijo dan warna biru.

Yang sangat disayangkan adalah jatuhnya beberapa korban, seorang slemania yang tepat berada disamping saya, kepalanya bocor terkena lemparan botol kratingdaeng dari si biru (hayah dari mana juga barang ginian bisa masuk coba?). Sebenarnya hal-hal semacam ini tidak perlu terjadi jika suporter Indonesia mau lebih dewasa. Dewasa dalam melihat suatu permasalahan dan bertindak. Lebih mengedepankan akal dan kepala daripada hati yang panas.

Rasa bangga, sebagai slemania aku rasakan karena meskipun kami mengalami pengalaman buruk di Bandung, itu tidak terjadi di Sleman. Bukanya diam karena kami takut, tapi kami lebih mengedepankan rasio. Tidak mungkin menyebarkan virus persahabatan suporter jika menggunakan kekerasan.

Minggu, 14 Oktober 2007

Lebaran....Lebaran

Lebaran tiba...
Rasanya hanya menjadi ritual belaka, kenapa ya lebaran kali ini kehilangan rohnya. Untuk pertama kali lebaran berasa biasa banget, ga ada gregetnya. Entah mungkin karena ibadahku di bulan Ramadhan yang standar-standar aja (ada pengaruhnya ga sih?) tapi yang jelas itu yang kurasakan. Segalanya seperti biasa aja, atau malah hidupku yang memang stagnan ya? Hanya ritual dan ritual yang terus berulang.

Rasa bosan mulai menggelayuti diri ini. Rasanya hidup jadi monoton, tidak ada tantangan yang berarti. Satu-satunya tantangan yang berarti saat ini adalah membuktikan bahwa aku bisa mengembangkan usaha yang aku rintis sekarang ini. Banyak orang yang nyinyir dengan pekerjaan yang aku jalani sekarang ini. Dari mulai pandangan sebelah mata, sampai omongan yang nggak sedap, baik di depan maupun dibelakangku. Tapi itu aku anggap sebagai cambuk untuk membuktikan, bahwa pilihan yang aku ambil ini tepat, yang aku butuhkan hanya waktu untuk berkembang. Aku bukanlah David Coperfield yang punya perjanjian dengan ifrid, sehingga bisa menyulap segala sesuatu menjadi seperti yang diinginkan. Semua ada prosesnya, dan proses itu yang sedang aku jalani.

Sepertinya hidup yang standar-standar memang cepat bikin kita bosan dan kehilangan semangat ya. Mungkin ini saatnya untuk berbuat sesuatu yang lebih, tidak hanya menjalani ritual- ritual hidup.

Sabtu, 06 Oktober 2007

Panas... Panas....

Wuahhhh... sambil nulis ini keringatku berleleran. Maklum ruangannya ga ber-AC juga sih. Sadar-ga sadar (emang ada yang pingsan kah?) Jogja ga seadem dulu lagi! Kata orang-orang pinter sih ini karena efek dari pemanasan global, rumah kaca atau rumah siput hehhehehehe... Tapi emang itu yang aku rasakan akhir-akhir ini. Ditambah lagi berjubelnya manusia-manusia dengan bermacam kendaraan ( baik mobil maupun motor) dari penjuru negeri ini untuk mudik atau malah sekedar berlibur ke Jogja bikin my lovely city ini jadi tambah hot (meski secara ekonomis ini menguntungkan diriku, jadi banyak pembeli di kios nih hehhehee...) . Yang jelas fenomena menjelang lebaran di Jogja akhir-akhir ini seperti itu. Berbeda dengan sekitar sepuluh tahun yang lampau, lebaran di Jogja malah sepi banget.

Tapi yang aku gak habis pikir itu kenapa Jogja bertambah sesak ya? Apa karena orang yang asli Jogja sudah berkembang sedemikian banyaknya di kota-kota lain, sehingga waktu mudik jadi berjubel disini. Tapi sepertinya itu bukan sebuah jawaban yang mutlak. Saat-saat seperti sekarang ini tidak bisa lagi bersepeda onthel maupun naik becak dengan nyaman. Kendaraan yang untuk ukuran jaman sekarang sudah dianggap lambat. Bahkan yang lebih sadis sering dituduh sebagai biang kemacetan. Padahal kalau dipikir-pikir yang "makan" jalan itu bukanlah becak yang lebarnya tidak seberapa dan pit onthel yang hanya "tipis". Tapi gerobak-gerobak Jepang dan Jerman ber-stang bulat itu. Semakin banyak yang punya itu, rasanya jalanan kota Jogja yang dulu terasa lebar dan lega ketika digunakan ngepit onthel dan mbecak sekarang jadi terasa sempit.

Kenyataan semakin sesaknya Jogja itu juga didukung oleh semakin berseliwerannya kuda-kuda Jepang dan China. Dengan iming-iming kredit dan uang muka yang rendah, setiap orang disini sekarang sudah bisa bergaya mondar-mandir dengan kuda-kuda jepang yang semakin digenjot produksinya untuk memuaskan hasrat nafsu atas nama trend dan mode, tanpa pernah sadar menjadi budak-budak kapitalisme. Dari dulu tidaklah berubah, mungkin hanya istilah atau nama saja yang berubah. Dulu ada budak, romusha, dan sekarang berubah jadi "kreditur", orang yang berhutang. Tapi tetap saja jadi orang yang kalah. Tidak pernah merasa bahwa hasil kerja banting tulang yang dia lakukan dihisap oleh kekuatan modal yang ada di seberang lautan. Mereka tidak pernah sadar untuk mengecap nikmat benda yang akan segera rongsok dalam hitungan lima sampai sepuluh tahun kedepan telah dimanfaatkan. Hanya satu kata yang dapat menjelaskan ini semua : IMPERIALISME.

Kapankah kita akan lepas dari jebakan-jebakan imperialisme ini? Merdeka sebagai sebuah satuan masyarakat, sebagai sebuah bangsa. Sepertinya apa yang diteriakkan oleh Sukarno, Mohammad Hatta( Mohammad Attar), Sukarni, Sayuti Melik dan beberapa pemuda di Jl Pegangsaan Timur 56 Jakarta waktu itu baru sebatas lisan dan tulisan. Belum sampai ke kalbu dan pikiran , karena kalbu dan pikiran kita masih sebagai bangsa terjajah, hamba dan pemuja imperialisme bagaimanapun itu bentuknya.

Pinggir kali Nongo 2007

Senin, 01 Oktober 2007

Sebanding Ga Si?

Selama bulan puasa ini aku lebih sering memperhatikan para pembeli di tempatku bekerja. Mulai ucapan sampai dengan tingkah lakunya ketika berbelanja maupun yang hanya sekadar lewat atau numpang duduk di depan kios. Bukan bermaksud untuk menambah dosa, karena dalam agama kita diminta untuk menundukkan pandangan agar tidak melihat yang tidak semestinya dan tidak halal bagi kita, tapi aku berfikir insya Allah ada pelajaran yang dapat diambil dari mereka.

Kita bohong itu dosa gak sih? Aku kira pertanyaan itu akan dianggap pertanyaan bodoh karena semua orang juga tahu jawabnya bahwa bohong itu dosa (anak kecil aja juga tahu mas…). Tetapi coba kita tanyakan kepada beberapa pembeli dikiosku, ternyata tidak semua menganggap bohong itu dosa! “Weleh kok berani-beraninya sih nuduh orang seperti itu? Nggak takut dosa karena berburuk sangka kepada orang lain?”, pertanyaan itu sempat mampir juga dikepalaku. Menurutku enggak kok, karena aku hanya memotret apa yang terjadi.

Contohnya gini, ada Mbak-mbak yang mo beli buku, terus aku kasih tahu harganya lima belas ribu rupiah dan dapat diskon lima ribu rupiah, jadi dia hanya membayar sepuluh ribu rupiah. Tapi si Mbak ini menawar tujuh ribu rupiah, dengan alasan temannya membeli seharga tujuh ribu rupiah. Trus aku jelaskan tidak bisa dengan harga segitu karena dari penerbitnya saja belinya sudah sembilan ribu rupiah. Eh si Mbak nawar lagi dengan harga sembilan ribu rupiah sesuai dengan harga dari penerbit. Dan akhirnya setuju dengan harga sepuluh ribu rupiah yang aku berikan. Nah lho, kok dia mau dengan harga yang lebih tinggi dari temannya?

Bagiku bukan masalah dia akan menawar berapapun, karena menawar adalah hak pembeli, tapi yang rasanya ngganjel adalah alasan yang diberikan, temannya membeli seharga tujuh ribu rupiah, itu lho. Padahal jelas-jelas dari penerbitnya seharga sembilan ribu rupiah. Kasus seperti ini sering banget aku temui. Kenapa sih harus dengan berbohong untuk mendapatkan selisih harga yang hanya beberapa ribu rupiah? Sebandingkah harga beberapa ribu rupiah itu dengan dosa kebohongan yang dibuat? Atau si Mbak tadi nggak nyadar ya kalau sedang berbohong. Atau hal itu merupakan sesuatu yang sangat biasa jadi tidak terasa bahwa kita sedang berbohong? Dari sana aku jadi belajar bahwa kita harus benar-benar menjaga lisan kita. Siapa tahu, apa yang kita anggap enteng dan sepele ternyata tanpa sadar kita telah berbuat dosa.







Jumat, 28 September 2007

My lovely work

Jika engkau orang yang berkemampuan, jadilah pedagang. Namun jika engkau mutunya setengah-setengah jadilah pegawai

Shibusawa Eiichi


Hmmm….. sudah menginjak pertengahan bulan puasa, sebentar lagi musim liburan menyambut hari raya lebaran (atau kalo umat muslim menyebutnya Idul Fitri). Waktu yang sebenarnya bagi sebagian orang merasakan kenyaman liburan. Tapi buat aku tidak begitu, masa datangnya liburan bagiku adalah saat ­­­­­kerja harus semakin dimaksimalkan, liburan berarti panen buat kami. Maklumlah sebagai penjual buku moment liburan keluarga adalah saat yang paling dinanti. Ketika liburan biasanya banyak keluarga, terutama yang dari luar Jogja, memanfaatkannya untuk berbelanja, tidak terkecuali buku tentu saja.


Oh ya, aku belum cerita tentang pekerjaanku ya, seperti yang sudah aku singgung tadi pekerjaanku adalah penjual buku (orang Jogja menyebutnya bakoel boekoe) di komplek pasar buku Taman Pintar. Dulu komplek ini dinamakan Shopping Centre ( untuk tempat ini, sejarah, dan bagaimana kiprahnya sampai sekarang, nanti akan aku tulis tersendiri). Balik lagi ke soal pekerjaanku, jualan buku itu enak lho (hehehhe rada promosi sedikit gak papa ya…), selain dapat duit, kita juga dapat baca buku sepuasnya (inilah yang bikin aku betah dan sangat mencintai pekerjaan ini), lha yo pasti to wong dagangannya milik kita sendiri hehehehehhe….Selain itu juga kita bisa sering ketemu berbagai jenis orang (halah … emang ada berapa jenis orang sih?? Shshuuuth!! aku juga ga tau) tapi maksudku kita dapat bertemu dengan berbagai macam karakter orang dengan berbagai keunikannya masing masing. Dari mulai seniman macam Dhani Dewa sampai seniman kampung yang nyentrik, ulama terkenal, ulama tarkam, bahkan anggota DPR, pokoknya asyik deh … heheheh, pengen to…..?


Tapi memang nggak semuanya indah (Emang ada yang sempurna? Klo itu sih sorga kali…). Sering juga ngalamin hal-hal yang menjengkelkan, yang paling sering tuh orang yang sok tahu tapi benernya ra dong blas (ngga dong sama sekali). Tapi kadang juga bikin kita ketawa dan senewen.


Contohnya ada mahasiswa yang tidak bisa membedakan antara edisi (keluaran buku) dan jilid (penggalan atau bagian buku), Dia tanya buku Dasar-dasar Akuntansi karangan A.L. Haryono Yusuf jilid satu edisi ke enam, tapi tanyanya gini : “Pak, ada buku Dasar-dasar Akuntansi karangan A.L. Haryono Yusuf jilid enam edisi satu (nah lho padahal jilidnya cuman sampai dua aja). Trus kan aku jawab, “ Mas yang ada buku Dasar-dasar Akuntansi karangan Pak Haryono Yusuf itu jilid satu dan dua, memang edisinya sudah sampai keenam”. Dan dijawab “Wah ga bisa, dosen saya itu pakenya yang jilid enam edisi satu!”. (halah malah bawa-bawa dosennya segala) . Ya sudah, kalau Mas-e ga punya saya cari yang lain aja! (waduh, lha sampe kemanapun juga ga akan dapat bukunya to…. hehehheeheh… padahal dia menyandang status mahasiswa lho..).


Paling sedih kalau kita dituduh macem-macem, dari mulai menaikkan harga (padahal dari penerbit sudah ada standar baku harga sebelum diskon), oh ya kalau belanja buku di kiosku TB. EMPAT PUTRA pasti dapat diskon (diskonnya tergantung dari penerbitnya). Tentang buku bajakan( paling tidak sejak aku mulai usaha ini tujuh tahun yang lalu) aku dah punya komitmen hanya jualan buku asli (bukan copy-an atau bajakan), jadi aman kok kalau belanja di tempatku, pasti dapat barang yang bermutu dengan harga yang murah (halah iklan…hehehhe gpp ya…. kan cuman dikit).


Pernah suatu kali ada orang yang membeli buku teks hukum, dengan semena-mena mengatakan kalau buku yang aku jual itu buku bajakan. Dia berargumen bahwa buku yang dijual di Taman Pintar adalah buku bajakan semua. Wah rasanya mau marah aja saat itu. Tapi syukurlah kepala tetap dingin, aku jawab dengan enteng saja. “Saya yakin Mas orang pandai, karena Mas mencari buku-buku teks hukum, asumsinya sedikit banyak anda orang yang terpelajar paling tidak mengerti hukum. Tetapi jelas anda tidak paham dua hal. Pertama, anda tidak paham membedakan antara buku asli dan buku bajakan. Kedua anda paham jika tindakan pembajakan buku itu melanggar hukum, tetapi anda tidak paham jika tuduhan yang tidak dapat dibuktikan juga dapat dikenai pasal yang berlapis, yaitu penghinaan, pencemaran nama baik, dan perbuatan tidak menyenangkan”. (pucat pasi wajah mas-mas itu, emang enak, dianggapnya semua penjual buku bodoh, lha yang bisa bikin Pak Amin Rais jadi profesor itu siapa? Ya tanya sendiri dong sama Pak Amin hehehheeheh….) tapi tidak semua konsumen seperti itu, masih banyak yang baik-baik, itu tadi sekadar pembelajaran buat dia supaya lebih berhati-hati terhadap orang lain, seperti yang ada diiklan itu lho “Mulutmu, harimaumu”.


Ada manfaat lain yang aku dapatkan sebagai bakoel boekoe, yaitu tambah banyak teman. Dari kalangan mana saja dan dari latar belakang disiplin ilmu apapun. Dari mereka-mereka itu juga aku banyak mencuri ilmu (tapi ini pencurian yang legal kok). Rata-rata langganan (pelanggan setia,ind) sudah seperti teman sendiri, mereka betah berlama-lama di kios hanya sekadar untuk ngobrol dan bertukar fikiran meski buku yang mereka butuhkan belum ditemukan atau hanya dapat satu.


Finnaly, aku sangat menikmati pekerjaanku saat ini, bahkan tingkatnya sudah sampai mencintainya. Jika kamu-kamu sudah mencintai pekerjaanmu tidak akan pernah ada rasa bosan dalam bekerja, karena kamu dan pekerjaanmu adalah satu.

Kamis, 27 September 2007

Segenggam Cerita dari Dusun Bengkak


Kemaren aku baru pulang dari tempat KKNku dulu, dusun Bengkak desa Kanigoro Gunung Kidul. Meski sekarang sudah dua tahun berlalu, tetapi keramahan dan kehangatan masyarakatnya masih sangat membekas dan tidak berubah. Mereka menyambut kami bak anaknya sendiri yang baru pulang dari rantau. Dan hebatnya, disana kami bukan seperti sedang bertamu, serasa berada di rumah sendiri. Memang banyak kenangan di sana, perjuangan yang sangat berat untuk meyakinkan penduduk agar bisa menerima kami. Mengajak untuk ikut kegiatan, mau bekerjasama untuk mewujudkan program,dan perpisahan yang sangat mengharukan.

Kebayang ga si, gimana rasanya ketika untuk perkenalan pertama dengan warga di balai dusun aja, ternyata yang datang hanya tujuh orang. Akhirnya kami putuskan untuk sosialisasi dor to dor, syukurnya metode iniu cukup berhasil, malah mereka jadi akrab dengan kami yang hanya berenam untuk satu dusun. Usut punya usut ternyata warga sanga tkecewa dengan KKN yang sebelumnya, karena dulu banyak janjinya tapi ga ada realisasi, fiuh.. klo kayak gitu kasihan kan yang KKN selanjutnya, mending gak banyak janji tapi langsung ada realisasi. Dari sini kami dapat belajar banyak hal, salah satunya jangan banyak janji, yang penting adalah apa yang dapat kamu lakukan maka lakukanlah.

Tapi kejutan pertama yang bikin syock bukanlah pada acara perkenalan itu. Kejutan pertama terjadi waktu kami baru saja datang di pondokan. Baru selesai kami bongkar barang bawaan kami di rumah pondokan yang kami tempati. Di pendopo rumah sudah berkumpul kurang lebih tigapuluh orang anak yang langsung mengajak belajar!! Deg.... Sesaat kami terbengong-bengong menghadapi kenyataan yang ada di depan mata, rasa haru menyelimuti, anak-anak kecil ini punya semangat sangat besar untuk belajar! Satu lagi pelajaran yang dapat kami petik dari sini, masih banyak anak Indonesia yang mempunyai semangat belajar, tapi kesempatan dan biaya tidak mereka dapatkan. Dan setiap malam selama dua bulan kami disana, tidak pernah absen seharipun anak-anak itu belajar bareng kami setelah shalat maghrib bersama. Ada bonus yang sangat menghibur kami setiap harinya, mereka senang kalau bernyanyi. Jadi setiap malam setelah belajar ada live show. Anak-anak itu berlomba-lomba untuk tampil bersama kelompok belajar masing-masing. Mereka saling bersaing antar kelompok belajar untuk menampilkan performa terbaik mereka.

Hehehe anehnya, setelah kami kenal, ternyata banyak masalah warga yang terus dicurhatin ke kami, mulai dari masalah pertanian, peternakan, pendidikan sampe kesehatan. Tiap hari ada aja yang datang buat periksa kesehatannya ke kami, padahal diantara kami tidak ada yang mempunyai basic pendidikan di bidang kedokteran dan kesehatan. Akhirnya Mita si anak Hukum jadi mantri pocokan selama KKN. Jadi buat programnya malah sangat terbantu, ga susah-susah cari. Tapi dari situ kami jadi takut juga karena kesannya anak KKN itu dianggap pinter banget, tau segala sesuatu, padahal kita juga masih pada bego, malah kadang kita terbengong-bengong dengan pertanyaan yang sederhana.

Yang susah adalah buat menggerakkan untuk bareng-bareng ngejalanin program. Kalau ga ada event wah susahnya minta ampyun. Ternyata kedekatan dengan perangkat desa merupakan resep yang ampuh. Bisa megang perangkat desa memudahkan untuk memobilisasi massa, meski begitu kami membatasi tidak terlalu banyak mengundang warga agar program yang dijalankan bisa lebih efektif dan mudah diaturnya.


Suasana sangat berbeda terjadi ketika kami pamitan malam hari sebelum penarikan. Malam hari sebelum penarikan kami mengadakan pamitan dengan warga, sungguh kami tidak pernah mengira ketika kami pamitan seluruh warga dusun hadir untuk melepas kami, tua muda sampai anak-anak. Acara itu diakhiri dengan "dahar kembul", nasi dihidangkan diatas tampah, dan dimakan bersama-sama, disitu tidak ada lagi anak KKN atau warga dusun Bengkak, yang ada adalah sebuah keluarga besar yang baru saja terbentuk. Ikatan kekeluargaan yang sampai sekarang masih kami rasakan.


Setelah acara perpisahan itu kami berenam menangis, sangat berat meninggalkan dusun ini. Banyak suka duka dan susah senang yang telah kami jalani selama dua bulan kebersamaan. Membayangkan kami berenam tidak lagi berkumpul dalam sebuah rumah. Tidak makan bareng lagi tiap harinya, tidak ada lagi begadang sampai malam. Tidak ada canda, diskusi, yang terjadi ketika main remi dan gaple. Pokoknya banyak yang akan hilang deh. Paginya,saatnya penarikan dari lokasi KKN, pagi-pagi sekali pondokan KKN sudah dipenuhi warga, kami belum juga mandi, masih kucek-kucek mata. Mereka ingin mengantar kami sampai Balai Desa yang jaraknya sekitar tiga kilometer. Lontaran kata-kata "Mas-Mbak besok masih kesini lagi kan?", "Mas, janji ya besok masih mau main kesini lagi ya!"hanya sanggup kami jawab dengan anggukan kepala. Untuk membuktikan kesungguhan kami, beberapa barang bawaan sengaja kami tinggalkan dipondokan. "Kami pasti kembali kesini", itu janji yang kami ucapkan waktu itu. Waktu perpisahan pun tiba, kami meninggalkan desa Kanigoro untuk kembali ke dunia yang selama dua bulan kami tinggalkan untuk belajar di desa ini. Kembali ke dusun ini menghidupkan lagi memori-memori tadi.


Suasana yang sangat tenang di dusun itu sangat enak banget, apalagi kalau kita lagi sumpek, dijamin fresh lagi deh. Berkunjung ke beberapa warga, melihat perkembangan di dusun, ternyata asyik banget. Sore hari akhirnya kami singgah di pondokan KKN, rumah dan kehangatan didalamnya tidaklah berubah, perubahan yang terjadi hanyalah penghuninya yang bertambah, sekarang lagi ditempati buat KKN anak-anak UAJY.

Asyik ngobrol, berbagi pengalaman selama perpisahan dan mengenang masa lalu, ternyata sampai bisa membuat lupa waktu, hanya diselingi sholat maghrib dan isya' tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 21.00, kami pun pamit pulang, karena paginya harus kembali ke pekerjaan dan aktivitas masing-masing. Pukul 23.30 HP ku berbunyi, ternyata Bapak Bengkak, beliau menyempatkan menelpon satu-persatu apakah kami sudah sampai di rumah dengan tak kurang suatu apa pun. Tidak salah jika kami menganggap beliau seperti orangtua sendiri atas ketulusan yang beliau tunjukkan. Tak terasa ternyata kami sudah jatuh cinta terhadap Bengkak dan warganya.

Sembah Sungkem kagem Bapak Kasiyono (Bapak Bengkak) lan sedoyo keluargo dusun Bengkak.



KKN Pilkada 2005

Selasa, 25 September 2007

GETIR


Aku baru selesai menata dagangan ketika Astya datang. Hari yang panas membuat titik peluh menghiasi dahinya, sebagian mengalir melalui anak rambutnya. Tiga tahun telah berlalu sejak hubungan kasih antara kami terputus. Awal percintaanku dengannya sangatlah konyol dan menggelikan. Waktu itu aku adalah kapten tim voli sekolah dan dia adalah adik kelasku. Bukannya memberi semangat kami untuk memenangkan kejuaraan tapi dia malah mengejek kami. “Sudahlah Mas, ga mungkin menang, serius amat latihannya!” Rasa jengkel memenuhi rongga dadaku, “Siapa bilang tim kita akan kalah? Lihat saja nanti, kami pasti jadi juarannya!” Tidak ada yang boleh meremehkan timku. “Ah, gak mungkin, berani bertaruh?”, lanjut Astya dan gengnya waktu itu. “Ok, siapa takut? Apa taruhannya?”, timpalku tak mau kalah. “Kalau kamu kalah, kamu harus traktir kami selama tiga bulan berturut-turut di kantin sekolah”. “Dan bagaimana kalau tim kita menang? Hm…Kalau tim kita menang kamu harus jadi pacarku. Bagaimana? Berani?” potongku langsung. Teman-teman setimku senyum-senyum mendengar syaratku, “Mampus kau Astya, main-main sama Ahmad, kena batunya kau!” Astya terlihat diam sesaat, tapi karena sudah terlanjur menantang taruhan, ia malu untuk menariknya kembali, maka disetujuinya pertaruhan itu.



Nasib baik berpihak padaku, tim kami yang belum pernah meraih gelar juara sekalipun memenangkan kejuaraan itu। Dan mulai saat itu kami jadian. Hubungan yang awalnya sebuah pertaruhan itu kemudian malah berubah benar-benar menjadi hubungan cinta. Bahkan kedua orang tua kami pun sudah sama-sama menyetujui pertalian itu. Sampai kira-kira tiga tahun yang lalu, kupergoki dia sedang jalan bergandengan dengan kakak angkatannya di sebuah mall. Keputusan yang emosional kubuat waktu itu, melihat dia jalan dengan laki-laki lain. Sang ego begitu tingginya sehingga mengalahkan rasio, dan putuslah jalinan tali kasih antara kami.


Dari tempat parkir motor sudah dilemparkannya senyum kearahku. Anggukan kepala kuberikan untuk menyambut senyum yang dilemparkannya. Masih seperti tiga tahun yang lalu, tanpa permisi langsung masuk ke dalam kiosku. Begitulah adat kelakuannya, tak pernah sungkan-sungkan terhadap siapa saja dan selalu terbuka. ”Laris Mas jualannya?”, seraya duduk di bangku panjang. “Yah lumayan, yang penting bisa buat hidup”. Aku mengambil tempat duduk di sebelah kanan Astya namun tak berani menatap wajahnya. Setelah itu, suasana dalam kios serasa beku. Kami hanya saling diam, tenggelam dalam perasaan dan pikiran masing-masing.


Gunung es yang tiba-tiba timbul dalam kiosku mulai meleleh saat dia bertanya, ”Gimana kabarnya Mas selama ini, ibu-bapak sehat semua ?” Sebuah pertanyaan yang umum sebenarnya। Tapi menjadi aneh kedengaran ditelingaku karena yang menanyakan Astya। Perempuan yang tak pernah menyukai basa-basi dan suka mengungkapkan apa yang dia pikirkan secara langsung. “Baik. Bapak ibu juga sehat semua, kamu sendiri gimana?” Sesaat pandanganku mengarah ke wajahnya. “Hmm, baik”, seraya menundukkan wajahnya. Tapi sebuah gurat kesedihan sempat tertangkap oleh pandanganku meskipun segera ditutupnya dengan senyum. Segera kualihkan pembicaraan ke topik yang lain “Ada apa ini, kok njanur gunung sempat mampir ke kios?”. Aku berfikir pasti ada sesuatu yang luar biasa yang sampai membawanya datang kepadaku. “Ah, gak ada apa-apa kok, cuman mau main sama kasih sesuatu ke Njenengan.”, sambil mengangsurkan sepucuk surat dengan kedua tangannya. Kuterima surat itu dengan perasaan heran. Aku masih terbengong-bengong atas apa yang baru saja terjadi. “Aku pulang dulu ya Mas! Ada praktikum di kampus siang ini.”, kata-kata Astya itu menyadarkanku. Hanya anggukan kepala yang sanggup kulakukan untuk menjawab pamitan Astya.



Tulisannya jelas adalah tulisan Astya। Tulisan tangan yang tak terlalu rapi. “Dasar calon dokter”, batinku dalam hati. Kubuka amplop surat itu. Berkali-kali surat itu kubaca dan kurenungkan. Dalam surat itu semua hal yang terjadi setelah berpisah denganku dibukanya. Sebuah pertentangan batin yang hebat berkecamuk dalam kalbuku. Di satu sisi masih terbersit rasa sayangku terhadapnya. Astya memang cinta pertamaku, segala daya dan pengorbanan telah banyak kulakukan untuk membimbingnya menjadi calon istri seperti yang kuinginkan. Tapi jalan kehidupan memang menentukan lain. Aku harus mengalami peristiwa yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Dia ternyata menduakanku.


Di sisi yang lain, sudah menjadi pedoman hidupku bahwa aku hanya memberi kesempatan sekali saja kepada seorang perempuan untuk menjalin cinta denganku। Jika kami tak mampu mempertahankannya, dan ditengah jalan kemudian harus putus, maka kuanggap memang kami tidak berjodoh. Bagiku, tidak berlaku peribahasa jawa, “Teklek keceblung kalen, tinimbang golek aluwung balen.” Tak ada kata mengulang percintaan dalam kamus hidupku. Sebagai konsekuensi dari pedoman hidupku, aku benar-benar memperjuangkan calon pasangan hidupku itu, dengan satu syarat, dia tidak mengkhianati kepercayaan yang telah aku berikan. Dan itu telah dilanggarnya.


***


Hari ini, aku telah menetapkan hati। Sebuah keputusan telah kuambil, kisah asmara kami tidak dapat disambung kembali. Aku akan menyayangi Astya sebagai seorang teman, seorang sahabat, yang akan selalu ada baginya dikala suka maupun duka. Segera kuhubungi nomor HP-nya dahulu ­---semoga nomornya belum ganti--- nada panggil berdering. “Hallo”, terdengar suara dari seberang. “Assalamu’alaikum, Astya ya?”, agak ragu kucoba memastikan. “Wa’alaikum salam. Benar, ah Mas Ahmad! Ada apa Mas?” Suara Astya sedikit bergetar, mungkin tak menyangka aku akan menelponnya siang ini. “Aku sudah baca surat kamu, oh ya, kamu ada waktu nggak? Aku pengen ngomong sama kamu.” Kini giliran suaraku yang sedikit tercekat, ada sesuatu yang berdesir di hati ini. “Ok, habis ini aku ke kios deh. Eh, Mas udah makan belum? Aku bawakan makanan ya.” Nada suaranya sedikit berubah, ada rona harapan tersirat didalamnya. “Terserah kamu aja As, assalamu’alaikum.”


Selesai sholat Dzuhur aku bergegas kembali ke kios yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari masjid। Matahari siang ini bersinar terik. Panasnya terasa membakar kulit. Begitu aku masuk Astya telah nongkrong di bangku panjang kios. Aku menyapanya lebih dahulu agar tidak terjadi kebekuan seperti tempo hari. Kutanyakan apa dia sudah lama menunggu. Dia menjawabnya dengan gelengan kepala. “Ught॥! Kenapa anak ini jadi pendiam seperti ini sekarang”, gumanku dalam hati. Aku tak siap dengan sikap diamnya ini. Lidahku seakan jadi kelu untuk meneruskan pertanyaanku tadi dan aku hanya terdiam. “Mas, katanya mau ngomong sama aku. Kok malah diem sih?” Teguran itu menyadarkanku. “Eh ya, begini As, aku sudah baca surat kamu”, sampai disini lidahku tercekat. Kulihat Astya memandangku, matanya yang bulat berkejam-kejap, setelah itu dia menundukkan mukanya. Seperti seorang pesakitan yang menunggu vonis dari hakim. Celakanya, hakim itu adalah aku! “As, kamu kan paham betul prinsipku. Dan itu sudah kukatakan sejak awal hubungan kita dahulu”. Wajah Astya semakin menunduk. Ia mengangguk mengamini apa yang kukatakan. “ Kita tidak mungkin kembali seperti yang dulu lagi. Kamu mengerti kan? Tapi aku akan tetap menjadi sahabatmu, di kala kamu senang maupun susah.” Tetes air mata berderai dari kedua pelupuk mata Astya. “Tapi Mas! Bagaimana dengan bayi dalam kandunganku ini? Aku memang salah Mas, tapi please!. Pengecut itu berhasil memperdayaku dan pergi setelah menanamkan benihnya, aku tak punya siapa-siapa lagi. Hanya kamu satu-satunya harapanku Mas! Tolong aku! Nikahilah aku, setidaknya sampai bayi ini lahir. Aku nggak mau bayi ini lahir tanpa bapak!”


Aku duduk termangu। Berbagai pikiran campur-aduk dalam benakku. Kupandangi wajah Astya sekali lagi. Aku bisa saja menerimanya, membantunya keluar dari masalah, dan kemudian menceraikannya saat bayi itu sudah lahir, tapi itu artinya aku akan melepas prinsip yang kupegang selama ini. Belum lagi dengan Bapak dan Ibu, beliau berdua pasti akan dengan keras menolak. Beliau selalu mematuhi segala pakem dan nilai-nilai tradisi jawa. Dalam setiap kesempatan berbicara denganku, beliau selalu mengajarkan bahwa garwo berarti sigaraning nyowo, istri itu adalah bagian tak terpisahkan dari diri kita. Dan lembaga pernikahan adalah lembaga yang dianggapnya sangat sakral. Oleh karena itu beliau selalu berpesan jika aku memilih istri, pilihlah ia sekali untuk seumur hidup.


“As, aku takut tak dapat menolong kamu, maksudku untuk menikahimu। Aku tidak mungkin mengkhianati prinsip yang telah aku pegang selama ini. Toh kalau aku mau, bapak dan ibu juga pasti tidak akan setuju dengan rencana itu. Beliau menginginkan sebuah pernikahan itu satu untuk selamanya seperti dalam pakem dan nilai yang selalu beliau pegang teguh selama ini.” Air mata kembali membasahi pipi Astya. Wajahnya tetap tertunduk. “As aku mungkin tak bisa menikahimu, tapi aku akan membantumu menemukan pacarmu itu. Akan aku paksa dia bertanggung jawab!”


“Tidak Mas! Aku nggak mau menikah dengan lelaki pengecut seperti dia. Aku ingin kamu yang menikahiku! Hanya kamu lelaki yang dapat aku percaya.” Astya mengucapkan itu dengan wajah penuh emosi.
“Tapi As, dia kan pacar kamu. Lelaki yang menjadi ayah dari anak dalam kandunganmu itu!”, sergahku kemudian.
“Sejujurnya Mas, selama ini aku selalu menyesali kebodohanku dahulu. Bahkan satu lagi kebodohan kubuat dengan adanya janin ini dalam kandunganku. Tapi apakah aku tidak boleh memperbaiki kesalahan itu dan berharap kepadamu?”
Kata-kata Astya terakhir itu mengguncangkanku. Langsung menohok ke ulu hati. Bukan hanya pertolongan untuk pengakuan terhadap bayi dalam kandungannya saja yang dia inginkan, tapi hal yang lebih jauh, menjadi istriku untuk selamanya.


Aku hanya mampu terdiam, tak tahu apa yang harus kulakukan। Pesan yang disampaikannya sangat jelas. Dia menginginkanku menjadi suaminya. “Ya Allah, apa yang harus saya lakukan.” Andaikata dia mengatakannya sebelum berpisah denganku dulu, tentu aku akan menyambutnya dengan gembira. Tapi sekarang sudah terlambat! Aku tak mungkin mengkhianati prinsip hidupku sendiri. Aku bingung bagaimana mengatakannya tanpa harus menyakiti hatinya. Dalam kebingunganku mencari apologi lain yang dapat menggugurkan niatnya, secara tiba-tiba kukatakan bahwa aku tak mungkin melakukan apa yang diinginkannya. Karena aku sudah mempunyai seseorang yang akan menjadi ratu dalam rumah tanggaku kelak.


“Kamu bohong Mas! Mulutmu mungkin mengatakan seperti itu, tapi matamu tak bisa bohong।” Astya mengatakannya sambil berurai air mata dan lari meninggalkan kiosku. Akupun tak percaya dengan apa yang tiba-tiba aku katakan tadi. Kupandangi kepergiannya sambil menghela nafas berkali-kali. Bungkusan batagor yang dibawanya masih teronggok di kursi panjang. Namun sudah tak ada lagi selera makanku hari ini.


***


Koran lokal pagi ini memuat headline yang hampir sama, ‘Seorang Mahasiswi Tewas Karena Aborsi, Polisi Masih Memburu Kekasih Korban’, ‘Mahasiswi Kedokteran Sebuah PTN Tewas Aborsi, Diduga hasil dari hubungan gelap dengan kekasihnya’। “Wah ndonyane wis arep kiamat, soyo rusak!” komentarku singkat. Berita-berita semacam itu semakin sering menghiasi koran-koran akhir-akhir ini.
Sebuah kijang abu-abu berhenti tepat di depan kiosku. Dua orang polisi datang menghampiriku. Sambil melakukan hormat salah seorang polisi itu menyapaku. “Selamat pagi! Benar Anda yang bernama Ahmad Sulaksono?”
“Benar”, jawabku singkat.
“Anda kenal dengan perempuan yang bernama Agastya Setyorini?”, lanjutnya.
“Kenal, ada apa Pak?” Sejanak kulirik kembali headline koran-koran lokal tadi.
“Kami memerlukan keterangan dari Anda. Silahkan ikut kami ke kantor.” Setelah berkata demikian kedua polisi itu mengapit dan menggelandangku ke dalam mobil kijang warna abu-abu.

Kadipaten, April 2005
Ini tulisan lamaku, lamaaaaa bgt

Kamis, 20 September 2007

SENDAL

Sebuah tulisan yang mencolok ditempelkan pada tangga masjid, “ALAS KAKI DILEPAS DIBAWAH TANGGA”, tapi bukan tulisan mencolok itu yang membuat orang yang membacanya kaget, dan sering malu dibuatnya. Sebaris tulisan kecil dalam bingkai blok dibawah tulisan itulah yang menjadi biang keladinya. Tulisan itu berbunyi”Kecuali bagi yang buta mata dan hatinya”. Sekilas memang tampak kasar. Namun bila dirunut mengapa bisa muncul tulisan itu maka akan memakluminya.

Tulisan itu muncul karena akumulasi dari kejengkelan terhadap orang yang beristirahat di teras Masjid (kebetulan dekat dengan taman bermain) dengan "Memakai Sendalnya", padahal setiap hari Jum'at teras itu selalu digunakan untuk shalat jum'at. Bahkan hari-hari biasa pun sering dipakai shalat jika jamaah sedang penuh. Yang kadang bikin ati empot-empotan tuh ada orang yang jelas-jelas menggunakan atribut muslim yang masih juga melakukannya. Lha kalo umat muslim sendiri tidak bisa menghargai tempat sucinya, bagaimana kita mau dihargai oleh orang lain? Kesel banget rasanya.

Tapi syukurlah tulisan itu tidak berumur lama, lebih kurang seminggu kemudian tulisan itu sudah berganti wajah dengan tulisan yang lebih menyejukkan mata, "KEBERSIHAN ADALAH SEBAGIAN DARI IMAN, mohon meninggalkan alas kaki di bawah tangga". Intinya tetep sama sih tapi bahasanya lebih halus dan tidak kasar. Tapi masih aja ada yang ngeyel, entah karena nggak ngliat atau nggak mau tahu, sampai kadang-kadang jamaah masjid harus mengingatkan sambil geleng-geleng kepala.

Mungkin bagi sebagian orang hal ini sederhana aja, cuman masalah sendal yang dipakai di masjid, tapi kalau kita renungkan lagi, kok sepertinya nilai-nilai etika dan norma-norma kesopanan sudah banyak yang luntur ya? Apakah karena masyarakat kita yang semakin permisif ? Atau mungkin karena pendidikan sekarang terlalu banyak menuntut siswa untuk menghafal dan menghitung sehingga sudah lupa untuk mengajarkan etika dan sopan santun? (Eh tapi apa mereka semua pernah sekolah ya?), aduh pusing deh! Berbagai pertanyaan itu masih muter di kepalaku sampai sekarang dan belum ketemu jawabnya.

Jumat, 14 September 2007

salam pembuka






Hai temen-temen!!!
Selamat datang di blogku, masih sederhana sih tapi pasti nantinya akan disempurnakan.
Maklum kan baru belajar, jadi sambil jalan aja ya perbaikannya. Insya Allah nanti semakin baik.
Harapanku dengan adanya media ini dapat menjadi salah satu tempat buat menumpahkan pemikiranku yang kadang-kadang dianggap aneh oleh orang kebanyakan. Tentu temen-temen juga dapat menumpahkan pemikirannya disini, boleh mengomentari, menyanggah dan sebagainya. but gak boleh ada sara dan pornografi (termasuk mencaci dengan kata-kata yang tidak pantas).

Ok segini dulu ya
sambung lagi nanti