sayangku
kurindu dekapmu
desah nafas cintamu
dalam malam-malam sujudku
sayangku
hati ini hampa
terasa sangat jauh
bahkan panggilanmu terdengar sayup-sayup
sudah bosankah engkau
dengan ratapku,
rengekanku
keluh kesahku
sayangku aku membutuhkanmu
jangan tinggalkan aku
kupercayakan onggok daging ini
dalam luasnya samudra cintamu
RW
Andrew Mattews Says
Senin, 31 Desember 2007
rindu padamu
Diposting oleh
ashar erwe
di
01.20
0
komentar
Label: butir-butir berserak
Rabu, 14 November 2007
Beli-Beli
Mungkin dalam kasus ini kita bisa berasumsi bahwa, gak semua kok kayak gitu, tergantung ortunya juga. Kalau bisa mendidik anaknya gak begitu-begitu amat. Pendapat itu juga ada benarnya. Tapi yang perlu kita perhatikan adalah sedikit demi sedikit tanpa terasa kita terjatuh dalam jebakan konsumerisme. Pelan tapi pasti dia memcengkeram kita melalui kampanye tentang kemudahan yang akan dinikmati, bungkus yang menarik sampai angan-angan hadiah bermilyar-milyar.
Alih-alih alasan yang digunakan adalah, "Terserah gue dong, gue mampu kok!", atau "Kalau tetangga sebelah bisa kenapa kita tidak?" Eh tapi jangan-jangan kita tidak merasa ya kalau sudah jadi anggota dari bangsa konsumen?
Diposting oleh
ashar erwe
di
00.06
0
komentar
Label: corat-coret
Kamis, 01 November 2007
Married is Menikah....
Sepertinya dia hanya menyimpan alasan itu untuk dirinya sendiri. Well, aku tidak bisa menyalahkannya, tapi coba aku bisa mengintip sedikit saja, maka kita dapat berbagi barang sedikit informasi itu. Tapi sudahlah, aku sudah tidak bernafsu lagi untuk menjelajahi benaknya. Rohku terlalu lelah untuk membuka lembar demi lembar jutaan megabite memori yang dipunyainya.
NB: Gambar dipinjam dari blognya Mas Rony di rony.dgworks.net Makasih Mas Rony
Diposting oleh
ashar erwe
di
21.55
4
komentar
Label: corat-coret
Minggu, 21 Oktober 2007
Kecewa, Sebal, tapi juga Bangga
Yang sangat disayangkan adalah jatuhnya beberapa korban, seorang slemania yang tepat berada disamping saya, kepalanya bocor terkena lemparan botol kratingdaeng dari si biru (hayah dari mana juga barang ginian bisa masuk coba?). Sebenarnya hal-hal semacam ini tidak perlu terjadi jika suporter Indonesia mau lebih dewasa. Dewasa dalam melihat suatu permasalahan dan bertindak. Lebih mengedepankan akal dan kepala daripada hati yang panas.
Rasa bangga, sebagai slemania aku rasakan karena meskipun kami mengalami pengalaman buruk di Bandung, itu tidak terjadi di Sleman. Bukanya diam karena kami takut, tapi kami lebih mengedepankan rasio. Tidak mungkin menyebarkan virus persahabatan suporter jika menggunakan kekerasan.
Diposting oleh
ashar erwe
di
06.58
0
komentar
Label: corat-coret
Minggu, 14 Oktober 2007
Lebaran....Lebaran
Lebaran tiba...
Rasanya hanya menjadi ritual belaka, kenapa ya lebaran kali ini kehilangan rohnya. Untuk pertama kali lebaran berasa biasa banget, ga ada gregetnya. Entah mungkin karena ibadahku di bulan Ramadhan yang standar-standar aja (ada pengaruhnya ga sih?) tapi yang jelas itu yang kurasakan. Segalanya seperti biasa aja, atau malah hidupku yang memang stagnan ya? Hanya ritual dan ritual yang terus berulang.
Rasa bosan mulai menggelayuti diri ini. Rasanya hidup jadi monoton, tidak ada tantangan yang berarti. Satu-satunya tantangan yang berarti saat ini adalah membuktikan bahwa aku bisa mengembangkan usaha yang aku rintis sekarang ini. Banyak orang yang nyinyir dengan pekerjaan yang aku jalani sekarang ini. Dari mulai pandangan sebelah mata, sampai omongan yang nggak sedap, baik di depan maupun dibelakangku. Tapi itu aku anggap sebagai cambuk untuk membuktikan, bahwa pilihan yang aku ambil ini tepat, yang aku butuhkan hanya waktu untuk berkembang. Aku bukanlah David Coperfield yang punya perjanjian dengan ifrid, sehingga bisa menyulap segala sesuatu menjadi seperti yang diinginkan. Semua ada prosesnya, dan proses itu yang sedang aku jalani.
Sepertinya hidup yang standar-standar memang cepat bikin kita bosan dan kehilangan semangat ya. Mungkin ini saatnya untuk berbuat sesuatu yang lebih, tidak hanya menjalani ritual- ritual hidup.
Diposting oleh
ashar erwe
di
16.56
3
komentar
Label: corat-coret
Sabtu, 06 Oktober 2007
Panas... Panas....
Wuahhhh... sambil nulis ini keringatku berleleran. Maklum ruangannya ga ber-AC juga sih. Sadar-ga sadar (emang ada yang pingsan kah?) Jogja ga seadem dulu lagi! Kata orang-orang pinter sih ini karena efek dari pemanasan global, rumah kaca atau rumah siput hehhehehehe... Tapi emang itu yang aku rasakan akhir-akhir ini. Ditambah lagi berjubelnya manusia-manusia dengan bermacam kendaraan ( baik mobil maupun motor) dari penjuru negeri ini untuk mudik atau malah sekedar berlibur ke Jogja bikin my lovely city ini jadi tambah hot (meski secara ekonomis ini menguntungkan diriku, jadi banyak pembeli di kios nih hehhehee...) . Yang jelas fenomena menjelang lebaran di Jogja akhir-akhir ini seperti itu. Berbeda dengan sekitar sepuluh tahun yang lampau, lebaran di Jogja malah sepi banget.
Tapi yang aku gak habis pikir itu kenapa Jogja bertambah sesak ya? Apa karena orang yang asli Jogja sudah berkembang sedemikian banyaknya di kota-kota lain, sehingga waktu mudik jadi berjubel disini. Tapi sepertinya itu bukan sebuah jawaban yang mutlak. Saat-saat seperti sekarang ini tidak bisa lagi bersepeda onthel maupun naik becak dengan nyaman. Kendaraan yang untuk ukuran jaman sekarang sudah dianggap lambat. Bahkan yang lebih sadis sering dituduh sebagai biang kemacetan. Padahal kalau dipikir-pikir yang "makan" jalan itu bukanlah becak yang lebarnya tidak seberapa dan pit onthel yang hanya "tipis". Tapi gerobak-gerobak Jepang dan Jerman ber-stang bulat itu. Semakin banyak yang punya itu, rasanya jalanan kota Jogja yang dulu terasa lebar dan lega ketika digunakan ngepit onthel dan mbecak sekarang jadi terasa sempit.
Kenyataan semakin sesaknya Jogja itu juga didukung oleh semakin berseliwerannya kuda-kuda Jepang dan China. Dengan iming-iming kredit dan uang muka yang rendah, setiap orang disini sekarang sudah bisa bergaya mondar-mandir dengan kuda-kuda jepang yang semakin digenjot produksinya untuk memuaskan hasrat nafsu atas nama trend dan mode, tanpa pernah sadar menjadi budak-budak kapitalisme. Dari dulu tidaklah berubah, mungkin hanya istilah atau nama saja yang berubah. Dulu ada budak, romusha, dan sekarang berubah jadi "kreditur", orang yang berhutang. Tapi tetap saja jadi orang yang kalah. Tidak pernah merasa bahwa hasil kerja banting tulang yang dia lakukan dihisap oleh kekuatan modal yang ada di seberang lautan. Mereka tidak pernah sadar untuk mengecap nikmat benda yang akan segera rongsok dalam hitungan lima sampai sepuluh tahun kedepan telah dimanfaatkan. Hanya satu kata yang dapat menjelaskan ini semua : IMPERIALISME.
Kapankah kita akan lepas dari jebakan-jebakan imperialisme ini? Merdeka sebagai sebuah satuan masyarakat, sebagai sebuah bangsa. Sepertinya apa yang diteriakkan oleh Sukarno, Mohammad Hatta( Mohammad Attar), Sukarni, Sayuti Melik dan beberapa pemuda di Jl Pegangsaan Timur 56 Jakarta waktu itu baru sebatas lisan dan tulisan. Belum sampai ke kalbu dan pikiran , karena kalbu dan pikiran kita masih sebagai bangsa terjajah, hamba dan pemuja imperialisme bagaimanapun itu bentuknya.
Pinggir kali Nongo 2007
Diposting oleh
ashar erwe
di
01.46
0
komentar
Label: Suara Hati
Senin, 01 Oktober 2007
Sebanding Ga Si?
Kita bohong itu dosa gak sih? Aku kira pertanyaan itu akan dianggap pertanyaan bodoh karena semua orang juga tahu jawabnya bahwa bohong itu dosa (anak kecil aja juga tahu mas…). Tetapi coba kita tanyakan kepada beberapa pembeli dikiosku, ternyata tidak semua menganggap bohong itu dosa! “Weleh kok berani-beraninya sih nuduh orang seperti itu? Nggak takut dosa karena berburuk sangka kepada orang lain?”, pertanyaan itu sempat mampir juga dikepalaku. Menurutku enggak kok, karena aku hanya memotret apa yang terjadi.
Contohnya gini, ada Mbak-mbak yang mo beli buku, terus aku kasih tahu harganya lima belas ribu rupiah dan dapat diskon lima ribu rupiah, jadi dia hanya membayar sepuluh ribu rupiah. Tapi si Mbak ini menawar tujuh ribu rupiah, dengan alasan temannya membeli seharga tujuh ribu rupiah. Trus aku jelaskan tidak bisa dengan harga segitu karena dari penerbitnya saja belinya sudah sembilan ribu rupiah. Eh si Mbak nawar lagi dengan harga sembilan ribu rupiah sesuai dengan harga dari penerbit. Dan akhirnya setuju dengan harga sepuluh ribu rupiah yang aku berikan. Nah lho, kok dia mau dengan harga yang lebih tinggi dari temannya?
Bagiku bukan masalah dia akan menawar berapapun, karena menawar adalah hak pembeli, tapi yang rasanya ngganjel adalah alasan yang diberikan, temannya membeli seharga tujuh ribu rupiah, itu lho. Padahal jelas-jelas dari penerbitnya seharga sembilan ribu rupiah. Kasus seperti ini sering banget aku temui. Kenapa sih harus dengan berbohong untuk mendapatkan selisih harga yang hanya beberapa ribu rupiah? Sebandingkah harga beberapa ribu rupiah itu dengan dosa kebohongan yang dibuat? Atau si Mbak tadi nggak nyadar ya kalau sedang berbohong. Atau hal itu merupakan sesuatu yang sangat biasa jadi tidak terasa bahwa kita sedang berbohong? Dari sana aku jadi belajar bahwa kita harus benar-benar menjaga lisan kita. Siapa tahu, apa yang kita anggap enteng dan sepele ternyata tanpa sadar kita telah berbuat dosa.
Diposting oleh
ashar erwe
di
06.44
0
komentar
Label: Suara Hati
Jumat, 28 September 2007
My lovely work
Jika engkau orang yang berkemampuan, jadilah pedagang. Namun jika engkau mutunya setengah-setengah jadilah pegawai
Shibusawa Eiichi
Hmmm….. sudah menginjak pertengahan bulan puasa, sebentar lagi musim liburan menyambut hari raya lebaran (atau kalo umat muslim menyebutnya Idul Fitri). Waktu yang sebenarnya bagi sebagian orang merasakan kenyaman liburan. Tapi buat aku tidak begitu, masa datangnya liburan bagiku adalah saat kerja harus semakin dimaksimalkan, liburan berarti panen buat kami. Maklumlah sebagai penjual buku moment liburan keluarga adalah saat yang paling dinanti. Ketika liburan biasanya banyak keluarga, terutama yang dari luar Jogja, memanfaatkannya untuk berbelanja, tidak terkecuali buku tentu saja.
Oh ya, aku belum cerita tentang pekerjaanku ya, seperti yang sudah aku singgung tadi pekerjaanku adalah penjual buku (orang Jogja menyebutnya bakoel boekoe) di komplek pasar buku Taman Pintar. Dulu komplek ini dinamakan Shopping Centre ( untuk tempat ini, sejarah, dan bagaimana kiprahnya sampai sekarang, nanti akan aku tulis tersendiri). Balik lagi ke soal pekerjaanku, jualan buku itu enak lho (hehehhe rada promosi sedikit gak papa ya…), selain dapat duit, kita juga dapat baca buku sepuasnya (inilah yang bikin aku betah dan sangat mencintai pekerjaan ini), lha yo pasti to wong dagangannya milik kita sendiri hehehehehhe….Selain itu juga kita bisa sering ketemu berbagai jenis orang (halah … emang ada berapa jenis orang sih?? Shshuuuth!! aku juga ga tau) tapi maksudku kita dapat bertemu dengan berbagai macam karakter orang dengan berbagai keunikannya masing masing. Dari mulai seniman macam Dhani Dewa sampai seniman kampung yang nyentrik, ulama terkenal, ulama tarkam, bahkan anggota DPR, pokoknya asyik deh … heheheh, pengen to…..?
Tapi memang nggak semuanya indah (Emang ada yang sempurna? Klo itu sih sorga kali…). Sering juga ngalamin hal-hal yang menjengkelkan, yang paling sering tuh orang yang sok tahu tapi benernya ra dong blas (ngga dong sama sekali). Tapi kadang juga bikin kita ketawa dan senewen.
Contohnya ada mahasiswa yang tidak bisa membedakan antara edisi (keluaran buku) dan jilid (penggalan atau bagian buku), Dia tanya buku Dasar-dasar Akuntansi karangan A.L. Haryono Yusuf jilid satu edisi ke enam, tapi tanyanya gini : “Pak, ada buku Dasar-dasar Akuntansi karangan A.L. Haryono Yusuf jilid enam edisi satu (nah lho padahal jilidnya cuman sampai dua aja). Trus
Paling sedih kalau kita dituduh macem-macem, dari mulai menaikkan harga (padahal dari penerbit sudah ada standar
Pernah suatu kali ada orang yang membeli buku teks hukum, dengan semena-mena mengatakan kalau buku yang aku jual itu buku bajakan. Dia berargumen bahwa buku yang dijual di Taman Pintar adalah buku bajakan semua. Wah rasanya mau marah aja saat itu. Tapi syukurlah kepala tetap dingin, aku jawab dengan enteng saja. “Saya yakin Mas orang pandai, karena Mas mencari buku-buku teks hukum, asumsinya sedikit banyak anda orang yang terpelajar paling tidak mengerti hukum. Tetapi jelas anda tidak paham dua hal. Pertama, anda tidak paham membedakan antara buku asli dan buku bajakan. Kedua anda paham jika tindakan pembajakan buku itu melanggar hukum, tetapi anda tidak paham jika tuduhan yang tidak dapat dibuktikan juga dapat dikenai pasal yang berlapis, yaitu penghinaan, pencemaran nama baik, dan perbuatan tidak menyenangkan”. (pucat pasi wajah mas-mas itu, emang enak, dianggapnya semua penjual buku bodoh, lha yang bisa bikin Pak Amin Rais jadi profesor itu siapa? Ya tanya sendiri dong sama Pak Amin hehehheeheh….) tapi tidak semua konsumen seperti itu, masih banyak yang baik-baik, itu tadi sekadar pembelajaran buat dia supaya lebih berhati-hati terhadap orang lain, seperti yang ada diiklan itu lho “Mulutmu, harimaumu”.
Finnaly, aku sangat menikmati pekerjaanku saat ini, bahkan tingkatnya sudah sampai mencintainya. Jika kamu-kamu sudah mencintai pekerjaanmu tidak akan pernah ada rasa bosan dalam bekerja, karena kamu dan pekerjaanmu adalah satu.
Diposting oleh
ashar erwe
di
04.45
0
komentar
Label: All about Me
Kamis, 27 September 2007
Segenggam Cerita dari Dusun Bengkak
Diposting oleh
ashar erwe
di
05.07
0
komentar
Label: Suara Hati
Selasa, 25 September 2007
GETIR
Aku baru selesai menata dagangan ketika Astya datang. Hari yang panas membuat titik peluh menghiasi dahinya, sebagian mengalir melalui anak rambutnya. Tiga tahun telah berlalu sejak hubungan kasih antara kami terputus. Awal percintaanku dengannya sangatlah konyol dan menggelikan. Waktu itu aku adalah kapten tim voli sekolah dan dia adalah adik kelasku. Bukannya memberi semangat kami untuk memenangkan kejuaraan tapi dia malah mengejek kami. “Sudahlah Mas, ga mungkin menang, serius amat latihannya!” Rasa jengkel memenuhi rongga dadaku, “Siapa bilang tim kita akan kalah? Lihat saja nanti, kami pasti jadi juarannya!” Tidak ada yang boleh meremehkan timku. “Ah, gak mungkin, berani bertaruh?”, lanjut Astya dan gengnya waktu itu. “Ok, siapa takut? Apa taruhannya?”, timpalku tak mau kalah. “Kalau kamu kalah, kamu harus traktir kami selama tiga bulan berturut-turut di kantin sekolah”. “Dan bagaimana kalau tim kita menang? Hm…Kalau tim kita menang kamu harus jadi pacarku. Bagaimana? Berani?” potongku langsung. Teman-teman setimku senyum-senyum mendengar syaratku, “Mampus kau Astya, main-main sama Ahmad, kena batunya kau!” Astya terlihat diam sesaat, tapi karena sudah terlanjur menantang taruhan, ia malu untuk menariknya kembali, maka disetujuinya pertaruhan itu.
Nasib baik berpihak padaku, tim kami yang belum pernah meraih gelar juara sekalipun memenangkan kejuaraan itu। Dan mulai saat itu kami jadian. Hubungan yang awalnya sebuah pertaruhan itu kemudian malah berubah benar-benar menjadi hubungan cinta. Bahkan kedua orang tua kami pun sudah sama-sama menyetujui pertalian itu. Sampai kira-kira tiga tahun yang lalu, kupergoki dia sedang jalan bergandengan dengan kakak angkatannya di sebuah mall. Keputusan yang emosional kubuat waktu itu, melihat dia jalan dengan laki-laki lain. Sang ego begitu tingginya sehingga mengalahkan rasio, dan putuslah jalinan tali kasih antara kami.
Dari tempat parkir motor sudah dilemparkannya senyum kearahku. Anggukan kepala kuberikan untuk menyambut senyum yang dilemparkannya. Masih seperti tiga tahun yang lalu, tanpa permisi langsung masuk ke dalam kiosku. Begitulah adat kelakuannya, tak pernah sungkan-sungkan terhadap siapa saja dan selalu terbuka. ”Laris Mas jualannya?”, seraya duduk di bangku panjang. “Yah lumayan, yang penting bisa buat hidup”. Aku mengambil tempat duduk di sebelah kanan Astya namun tak berani menatap wajahnya. Setelah itu, suasana dalam kios serasa beku. Kami hanya saling diam, tenggelam dalam perasaan dan pikiran masing-masing.
Gunung es yang tiba-tiba timbul dalam kiosku mulai meleleh saat dia bertanya, ”Gimana kabarnya Mas selama ini, ibu-bapak sehat semua ?” Sebuah pertanyaan yang umum sebenarnya। Tapi menjadi aneh kedengaran ditelingaku karena yang menanyakan Astya। Perempuan yang tak pernah menyukai basa-basi dan suka mengungkapkan apa yang dia pikirkan secara langsung. “Baik. Bapak ibu juga sehat semua, kamu sendiri gimana?” Sesaat pandanganku mengarah ke wajahnya. “Hmm, baik”, seraya menundukkan wajahnya. Tapi sebuah gurat kesedihan sempat tertangkap oleh pandanganku meskipun segera ditutupnya dengan senyum. Segera kualihkan pembicaraan ke topik yang lain “Ada apa ini, kok njanur gunung sempat mampir ke kios?”. Aku berfikir pasti ada sesuatu yang luar biasa yang sampai membawanya datang kepadaku. “Ah, gak ada apa-apa kok, cuman mau main sama kasih sesuatu ke Njenengan.”, sambil mengangsurkan sepucuk surat dengan kedua tangannya. Kuterima surat itu dengan perasaan heran. Aku masih terbengong-bengong atas apa yang baru saja terjadi. “Aku pulang dulu ya Mas! Ada praktikum di kampus siang ini.”, kata-kata Astya itu menyadarkanku. Hanya anggukan kepala yang sanggup kulakukan untuk menjawab pamitan Astya.
Tulisannya jelas adalah tulisan Astya। Tulisan tangan yang tak terlalu rapi. “Dasar calon dokter”, batinku dalam hati. Kubuka amplop surat itu. Berkali-kali surat itu kubaca dan kurenungkan. Dalam surat itu semua hal yang terjadi setelah berpisah denganku dibukanya. Sebuah pertentangan batin yang hebat berkecamuk dalam kalbuku. Di satu sisi masih terbersit rasa sayangku terhadapnya. Astya memang cinta pertamaku, segala daya dan pengorbanan telah banyak kulakukan untuk membimbingnya menjadi calon istri seperti yang kuinginkan. Tapi jalan kehidupan memang menentukan lain. Aku harus mengalami peristiwa yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Dia ternyata menduakanku.
Di sisi yang lain, sudah menjadi pedoman hidupku bahwa aku hanya memberi kesempatan sekali saja kepada seorang perempuan untuk menjalin cinta denganku। Jika kami tak mampu mempertahankannya, dan ditengah jalan kemudian harus putus, maka kuanggap memang kami tidak berjodoh. Bagiku, tidak berlaku peribahasa jawa, “Teklek keceblung kalen, tinimbang golek aluwung balen.” Tak ada kata mengulang percintaan dalam kamus hidupku. Sebagai konsekuensi dari pedoman hidupku, aku benar-benar memperjuangkan calon pasangan hidupku itu, dengan satu syarat, dia tidak mengkhianati kepercayaan yang telah aku berikan. Dan itu telah dilanggarnya.
***
Hari ini, aku telah menetapkan hati। Sebuah keputusan telah kuambil, kisah asmara kami tidak dapat disambung kembali. Aku akan menyayangi Astya sebagai seorang teman, seorang sahabat, yang akan selalu ada baginya dikala suka maupun duka. Segera kuhubungi nomor HP-nya dahulu ---semoga nomornya belum ganti--- nada panggil berdering. “Hallo”, terdengar suara dari seberang. “Assalamu’alaikum, Astya ya?”, agak ragu kucoba memastikan. “Wa’alaikum salam. Benar, ah Mas Ahmad! Ada apa Mas?” Suara Astya sedikit bergetar, mungkin tak menyangka aku akan menelponnya siang ini. “Aku sudah baca surat kamu, oh ya, kamu ada waktu nggak? Aku pengen ngomong sama kamu.” Kini giliran suaraku yang sedikit tercekat, ada sesuatu yang berdesir di hati ini. “Ok, habis ini aku ke kios deh. Eh, Mas udah makan belum? Aku bawakan makanan ya.” Nada suaranya sedikit berubah, ada rona harapan tersirat didalamnya. “Terserah kamu aja As, assalamu’alaikum.”
Selesai sholat Dzuhur aku bergegas kembali ke kios yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari masjid। Matahari siang ini bersinar terik. Panasnya terasa membakar kulit. Begitu aku masuk Astya telah nongkrong di bangku panjang kios. Aku menyapanya lebih dahulu agar tidak terjadi kebekuan seperti tempo hari. Kutanyakan apa dia sudah lama menunggu. Dia menjawabnya dengan gelengan kepala. “Ught॥! Kenapa anak ini jadi pendiam seperti ini sekarang”, gumanku dalam hati. Aku tak siap dengan sikap diamnya ini. Lidahku seakan jadi kelu untuk meneruskan pertanyaanku tadi dan aku hanya terdiam. “Mas, katanya mau ngomong sama aku. Kok malah diem sih?” Teguran itu menyadarkanku. “Eh ya, begini As, aku sudah baca surat kamu”, sampai disini lidahku tercekat. Kulihat Astya memandangku, matanya yang bulat berkejam-kejap, setelah itu dia menundukkan mukanya. Seperti seorang pesakitan yang menunggu vonis dari hakim. Celakanya, hakim itu adalah aku! “As, kamu kan paham betul prinsipku. Dan itu sudah kukatakan sejak awal hubungan kita dahulu”. Wajah Astya semakin menunduk. Ia mengangguk mengamini apa yang kukatakan. “ Kita tidak mungkin kembali seperti yang dulu lagi. Kamu mengerti kan? Tapi aku akan tetap menjadi sahabatmu, di kala kamu senang maupun susah.” Tetes air mata berderai dari kedua pelupuk mata Astya. “Tapi Mas! Bagaimana dengan bayi dalam kandunganku ini? Aku memang salah Mas, tapi please!. Pengecut itu berhasil memperdayaku dan pergi setelah menanamkan benihnya, aku tak punya siapa-siapa lagi. Hanya kamu satu-satunya harapanku Mas! Tolong aku! Nikahilah aku, setidaknya sampai bayi ini lahir. Aku nggak mau bayi ini lahir tanpa bapak!”
Aku duduk termangu। Berbagai pikiran campur-aduk dalam benakku. Kupandangi wajah Astya sekali lagi. Aku bisa saja menerimanya, membantunya keluar dari masalah, dan kemudian menceraikannya saat bayi itu sudah lahir, tapi itu artinya aku akan melepas prinsip yang kupegang selama ini. Belum lagi dengan Bapak dan Ibu, beliau berdua pasti akan dengan keras menolak. Beliau selalu mematuhi segala pakem dan nilai-nilai tradisi jawa. Dalam setiap kesempatan berbicara denganku, beliau selalu mengajarkan bahwa garwo berarti sigaraning nyowo, istri itu adalah bagian tak terpisahkan dari diri kita. Dan lembaga pernikahan adalah lembaga yang dianggapnya sangat sakral. Oleh karena itu beliau selalu berpesan jika aku memilih istri, pilihlah ia sekali untuk seumur hidup.
“As, aku takut tak dapat menolong kamu, maksudku untuk menikahimu। Aku tidak mungkin mengkhianati prinsip yang telah aku pegang selama ini. Toh kalau aku mau, bapak dan ibu juga pasti tidak akan setuju dengan rencana itu. Beliau menginginkan sebuah pernikahan itu satu untuk selamanya seperti dalam pakem dan nilai yang selalu beliau pegang teguh selama ini.” Air mata kembali membasahi pipi Astya. Wajahnya tetap tertunduk. “As aku mungkin tak bisa menikahimu, tapi aku akan membantumu menemukan pacarmu itu. Akan aku paksa dia bertanggung jawab!”
“Tidak Mas! Aku nggak mau menikah dengan lelaki pengecut seperti dia. Aku ingin kamu yang menikahiku! Hanya kamu lelaki yang dapat aku percaya.” Astya mengucapkan itu dengan wajah penuh emosi.
“Tapi As, dia kan pacar kamu. Lelaki yang menjadi ayah dari anak dalam kandunganmu itu!”, sergahku kemudian.
“Sejujurnya Mas, selama ini aku selalu menyesali kebodohanku dahulu. Bahkan satu lagi kebodohan kubuat dengan adanya janin ini dalam kandunganku. Tapi apakah aku tidak boleh memperbaiki kesalahan itu dan berharap kepadamu?”
Kata-kata Astya terakhir itu mengguncangkanku. Langsung menohok ke ulu hati. Bukan hanya pertolongan untuk pengakuan terhadap bayi dalam kandungannya saja yang dia inginkan, tapi hal yang lebih jauh, menjadi istriku untuk selamanya.
Aku hanya mampu terdiam, tak tahu apa yang harus kulakukan। Pesan yang disampaikannya sangat jelas. Dia menginginkanku menjadi suaminya. “Ya Allah, apa yang harus saya lakukan.” Andaikata dia mengatakannya sebelum berpisah denganku dulu, tentu aku akan menyambutnya dengan gembira. Tapi sekarang sudah terlambat! Aku tak mungkin mengkhianati prinsip hidupku sendiri. Aku bingung bagaimana mengatakannya tanpa harus menyakiti hatinya. Dalam kebingunganku mencari apologi lain yang dapat menggugurkan niatnya, secara tiba-tiba kukatakan bahwa aku tak mungkin melakukan apa yang diinginkannya. Karena aku sudah mempunyai seseorang yang akan menjadi ratu dalam rumah tanggaku kelak.
“Kamu bohong Mas! Mulutmu mungkin mengatakan seperti itu, tapi matamu tak bisa bohong।” Astya mengatakannya sambil berurai air mata dan lari meninggalkan kiosku. Akupun tak percaya dengan apa yang tiba-tiba aku katakan tadi. Kupandangi kepergiannya sambil menghela nafas berkali-kali. Bungkusan batagor yang dibawanya masih teronggok di kursi panjang. Namun sudah tak ada lagi selera makanku hari ini.
***
Koran lokal pagi ini memuat headline yang hampir sama, ‘Seorang Mahasiswi Tewas Karena Aborsi, Polisi Masih Memburu Kekasih Korban’, ‘Mahasiswi Kedokteran Sebuah PTN Tewas Aborsi, Diduga hasil dari hubungan gelap dengan kekasihnya’। “Wah ndonyane wis arep kiamat, soyo rusak!” komentarku singkat. Berita-berita semacam itu semakin sering menghiasi koran-koran akhir-akhir ini.
Sebuah kijang abu-abu berhenti tepat di depan kiosku. Dua orang polisi datang menghampiriku. Sambil melakukan hormat salah seorang polisi itu menyapaku. “Selamat pagi! Benar Anda yang bernama Ahmad Sulaksono?”
“Benar”, jawabku singkat.
“Anda kenal dengan perempuan yang bernama Agastya Setyorini?”, lanjutnya.
“Kenal, ada apa Pak?” Sejanak kulirik kembali headline koran-koran lokal tadi.
“Kami memerlukan keterangan dari Anda. Silahkan ikut kami ke kantor.” Setelah berkata demikian kedua polisi itu mengapit dan menggelandangku ke dalam mobil kijang warna abu-abu.
Diposting oleh
ashar erwe
di
04.52
0
komentar
Label: corat-coret
Kamis, 20 September 2007
SENDAL
Tulisan itu muncul karena akumulasi dari kejengkelan terhadap orang yang beristirahat di teras Masjid (kebetulan dekat dengan taman bermain) dengan "Memakai Sendalnya", padahal setiap hari Jum'at teras itu selalu digunakan untuk shalat jum'at. Bahkan hari-hari biasa pun sering dipakai shalat jika jamaah sedang penuh. Yang kadang bikin ati empot-empotan tuh ada orang yang jelas-jelas menggunakan atribut muslim yang masih juga melakukannya. Lha kalo umat muslim sendiri tidak bisa menghargai tempat sucinya, bagaimana kita mau dihargai oleh orang lain? Kesel banget rasanya.
Tapi syukurlah tulisan itu tidak berumur lama, lebih kurang seminggu kemudian tulisan itu sudah berganti wajah dengan tulisan yang lebih menyejukkan mata, "KEBERSIHAN ADALAH SEBAGIAN DARI IMAN, mohon meninggalkan alas kaki di bawah tangga". Intinya tetep sama sih tapi bahasanya lebih halus dan tidak kasar. Tapi masih aja ada yang ngeyel, entah karena nggak ngliat atau nggak mau tahu, sampai kadang-kadang jamaah masjid harus mengingatkan sambil geleng-geleng kepala.
Mungkin bagi sebagian orang hal ini sederhana aja, cuman masalah sendal yang dipakai di masjid, tapi kalau kita renungkan lagi, kok sepertinya nilai-nilai etika dan norma-norma kesopanan sudah banyak yang luntur ya? Apakah karena masyarakat kita yang semakin permisif ? Atau mungkin karena pendidikan sekarang terlalu banyak menuntut siswa untuk menghafal dan menghitung sehingga sudah lupa untuk mengajarkan etika dan sopan santun? (Eh tapi apa mereka semua pernah sekolah ya?), aduh pusing deh! Berbagai pertanyaan itu masih muter di kepalaku sampai sekarang dan belum ketemu jawabnya.
Diposting oleh
ashar erwe
di
19.44
0
komentar
Label: Suara Hati
Jumat, 14 September 2007
salam pembuka
Hai temen-temen!!!
Selamat datang di blogku, masih sederhana sih tapi pasti nantinya akan disempurnakan.
Maklum kan baru belajar, jadi sambil jalan aja ya perbaikannya. Insya Allah nanti semakin baik.
Harapanku dengan adanya media ini dapat menjadi salah satu tempat buat menumpahkan pemikiranku yang kadang-kadang dianggap aneh oleh orang kebanyakan. Tentu temen-temen juga dapat menumpahkan pemikirannya disini, boleh mengomentari, menyanggah dan sebagainya. but gak boleh ada sara dan pornografi (termasuk mencaci dengan kata-kata yang tidak pantas).
Ok segini dulu ya
sambung lagi nanti
Diposting oleh
ashar erwe
di
07.54
1 komentar
Label: All about Me


